Tampilkan postingan dengan label konsultan skripsi jogja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label konsultan skripsi jogja. Tampilkan semua postingan

Jumat, 13 April 2018

Penyakit bawaan Air (skripsi dan tesis)

Adanya penyebab penyakit di dalam air dapat menyebabkan efek langsung terhadap kesehatan. Penyebab penyakit yang ditularkan melalui air dapat dikelompokan menjadi dua bagian (seomirat, 1994), yaitu:
  1. Penyebab hidup, yang menyebabkan penyakit menular
  2. Penyebab tidak hidup, yang menyebabkan penyakit tidak menular.
Tabel 2.3 : Beberapa penyakit bawaan air dan Agentnya.
AgentPenyakit
Virus :
Rota Virus
Virus Hepatitis A
Virus Poliomielitis

Diare pada anak-anak
Hepatitis A
Polio
Bakteri:
Vibrio Cholerae
Escherichia Coli enteropatogenik
Salmonella typhi
Salmonella paratyphi
Shigella dysentrieae

Cholera
Diare Dysentri
Thypus Abdominalis
Paratyphus
Dysentri
Protozoa :
Entamoeba Histolytica
Balantidia coli
Giardia lamblia

Dysentri Amoeba
Balantidiasis
Giardiasis
Metazoa:
Ascaris lumbricoides
Clonorchis sinensis
Dyphylobothrium latum
Taenia saginata/solium
Schistosoma

Ascariasis
Clonorchisasis
Dyphylobothriasis
Taeniasis
Schistosomiasis
Sumber : Soemirat, J. Slamet, 1994
Peranan air di dalam penularan penyakit adalah (1) Aie sebagai penyebar mikroba patogen, (2) Air sebagai sarang insekta penyebar penyakit, (3) Air sebagai sarang hospes penular penyakit dan (4) Air sebagai media bagi pencemaran dan bahan-bahan kimia.
Penyakit menular yang disebarkan melalui air di sebut penyakit bawaan air (water borne diseases), penyakit-penyakit tersebut hanya dapat menular apabila mikroorganisme penyebabnya dapat masuk ke dalam sumber air yang dipakai masyarakat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Jenis mikroba yang dapat disebarkan melalui air, yaitu virus, bakteri, protozoa dan metazoa.

Kualitas Air (skripsi dan tesis)

ualitas air dapat di definisikan sebagai kondisi kualitatif yang dicerminkan sebagai kategori fisik, kimia, biologi, dan radiologis sesuai dengan peruntukannya. (Soemirat J., 2004).  Berdasarkan peraturan Menteri Kesehatan RI  No.416 tahun 1990 maka kualitas air bersih  harus memenuhi beberapa syarat yaitu kualitas fisik, kimia, dan kualitas mikrobiologis. Namun untuk penelitian ini berdasarkan hanya ditekankan pada standar kualitas mikrobiologis saja yaitu Colitinja dengan batas syarat kadar maksimum yang diperbolehkan adalah 50 MPN colitinja per 100 ml sampel (Permenkes, 416 Tahun 1990).  Khususnya pada air minum persyaratan mikrobiologis sangat ditekankan, selain syarat fisik dan kimia. Sebab di dalam air dimungkinkan terdapatnya mikro pathogen atau penyebab penyakit misalnya kolera, disentri, demam thypoid dan lain-lain. Karena dan isolasi mikro tersebut sangat sulit dan mikroorganismenya tersebut berasal dari perut penderita yang dikeluarkan bersama kotorannya (facces), maka untuk keperluan praktis adanya kontaminasi dalam air ditandai dengan adanya bakteri yang terdapat dalam kotoran manusia atau hewan (Supardi,1990). Coli  adalah  organisme yang ditemukan dalam saluran pencernaan manusia dan hewan, dimana keberadaanya dalam air menandakan adanya pencemaran kuman yang berbahaya. Dalam teknologi pengelolaan kualitas air, parameter mikrobiologis secara umum merupakan indikator potensi water- borne dieseases terbatas untuk penyakit yang di sebabkan oleh virus, bakteri dan protozoa pathogen (Brock dan Brock).
Colitinja dijadikan sebagai indikator, karena parameter ini sebagai petunjuk kehadiran parameter lain yang dimungkinkan lebih sulit dideteksi secara langsung. Parameter ini umumnya secara langsung tidak menimbulkan bahaya akan tetapi kahadirannya menandakan adanya bahaya yang patut diperhatikan. Sistem indikator ini dimaksud sebagai sistem peringatan dini terhadap kemungkinan terjadinya pencemaran secara efektif (Wuryadi,1991).
Menurut Sutrino dan Suciastuti (1991), menyatakan bahwa air minum boleh mengandung bakteri paatogen tetapi tidak boleh mengandung bakteri jenis Eschericia Coli melebihi batas yang telah ditentukan yaitu 1 individu 100 ml air. Sehingga apabila telah melebihi batas tersebut berarti air telah tercemar oleh tinja.

Penyaluran Air Limbah Domestik (skripsi dan tesis)

Menurut Tjokrokusumo (1995), bahan yang umumnya di pakai untuk pipa saluran air limbah domestik adalah :
  1. Pipa asbes semen (Asbestos cement pipe)
Pipa asbes semen tahan terhadap korosi akibat asam, tahan terhadap kondisi limbah yang sangat septik dan pada tanah yang alkalis.


  1. Pipa beton (Concrete pipe)
Pipa beton sering digunakan untuk saluran air limbah berukuran kecil dan sedang (berdiameter 600 mm). Penanganannya cukup mudah karena secara langsung dapat dibuat di lapangan, hanya saja umumnya tidak tahan terhadap asam.
  1. Pipa besi cor (Cast iron pipe)
Keuntungan pipa ini adalah umur penggunaan yang cukup lama, kuat menahan beban, dan karakteristik pengaliran yang baik. Hanya saja secara ekonomis tidak menguntungkan karena mahal, sulit untuk penggunaan secara khusus (misalnya untuk sifon, saluran yang melewati daerah rawa).
  1. Pipa tanah liat (Vetrified clay pipe)
Pipa ini sudah digunakan sejak zaman Babylonia dan sampai saat ini masih digunakan. Pipa tanah liat ini pada umumnya berdiameter antara 450 mm sampai 600 mm. pipa ini terbuat dari tanah yang dicampur dengan air, dibentuk kemudian dijemur dan dipanaskan dalam suhu tinggi. Keuntungan penggunaan pipa ini adalah tahan korosi akibat produksi H2S air limbah. Selain itu, kelemahan pipa ini mudah pecah dan umumnya dicetak dalam ukuran pendek.
  1. PVC (Polyvinyl chloride)
Pipa ini banyak digunakan karena mempunyai keunggulan, antara lain mudah dalam penyambungan, ringan, tahan korosi, tahan asam, fleksibel dan karakteristik aliran sangat baik. Sambungan pipa penyalur air limbah dapat berupa adukan semen, aspal, karet penyekat (rubber gasket), atau serat goni. Hal yang perlu diperhatikan adalah sambungan tersebut harus tahan rembesan, terhadap pertumbuhan akar pohon yang melewatinya, korosi dan mudah dalam penanganannya, serta hemat.
            Perencanaan pemipaan air Limbah domestik dimulai dari penataan pipa persil menuju pipa servis dan selanjutnya penempatan pipa servis yang tepat di ruas jalan yang berada disekitar perumahan atau pemukiman. Dimungkinkan pipa dipasang di sisi jalan atau di tengah jalan. Pada prinsipnya air limbah harus dapat mengalir cepat dan tidak meninggalkan lumpur di dalam perjalanan sampai di tempat air limbah domestik berakhir. Agar terpenuhi itu, maka perlu dipenuhi faktor lain yaitu diameter pipa, kekasaran pipa, kemiringan pipa, jarak manholes, guna melayani besar dan kecilnya arus aliran air limbah dari rumah-rumah penduduk.




Pencemaran Air Tanah Akibat Perilaku Manusia (skripsi dan tesis)

Pencemaran oleh karena perilaku manusia pada wilayah perkotaan terjadi akibat tingginya kepadatan dan aktivitas penduduk, terutama bila sistem buangan limbah cair dan padat, sampah, dan sanitasi tidak memadai akan menjadi potensi pencemaran air tanah (Sutrisno, 2002).
            Menurut Berthouex (1998), menyatakan bahwa bakteri patogen analog dengan bahan kimia beracun, karena dapat menyebabkan penyakit apabila melebihi batas toleransi yang diperbolehkan untuk manusia. Bakteri Coliform adalah group bakteri yang sering ditemukan didalam tanah, tinja manusia, burung dan binatang berdarah panas. Adanya coliform menunjukkan adanya bakteri patogen, sehingga digunakan sebagai indikator kualitas higienis air bersih/ minum. Secara praktis apabila indikator bakteri tidak muncul di dalam air bersih/ minum, maka bakteri patogen juga tidak ada (negatif) dan air aman untuk diminum. Air dapat berfungsi pembawa penyakit (water borne disease), sehingga perlu dilakukan upaya pencegahan dari kontaminasi bakteri. Kontaminasi bakteri patogen pada air bersih/minum sering berasal dari septic tank dan air buangan domestik melalui tanah, sehingga perlu dilakukan upaya pencegahan. Pencegahan kontaminasi bakteri patogen dari septic tank maupun air buangan domestik dapat dilakukan dengan cara pengolahan dan pada akhir pengolahan dilakukan proses desinfeksi menggunakan klorin, ultra violet maupun ozon.

Pencemaran Air Tahan Oleh Penyebab Alamiah (skripsi dan tesis)

   Menurut Khumyahd (1991), struktur kimia tanah yang termasuk di dalam struktur pegunungan berapi di daerah tropis dengan curah hujan sedang dan tinggi pada ketinggian hingga 900 m dari permukaan laut (dpl) banyak mengandung mineral besi (Fe) dan mangan (Mn), oleh karena didominasi oleh jenis tanah regosol, litosol dan latosol. Warna jenis tanah ini adalah berwarna kuning kecoklatan, coklat kemerahan, coklat, coklat kehitaman dan hitam. Besi (Fe), Mangan (Mn) dan Kalsium (Ca) adalah konstituen alam yang terdapat pada tanah dan batuan yang terdapat pada bahan induk vulkanik berupa tufa ataupun batuan beku. Besi salah satu unsur yang sering didapati lebih besar kandungannya dibanding mangan. Besi terdapat dalam mineral silikat pada batuan beku, sedangkan mangan sering terdapat di dalam batuan metamorphik dan batuan sedimen. Unsur kimia Fe dan Mn dapat berupa mineral terlarut dan presipitat pada kondisi tertentu seperti dalam tabel di bawah ini :





Tabel 2.1. Unsur Kimia Fe dan Mn
UnsurPresipitatKondisi
Fe2+Fe(OH)2Tidak adanya O2 dan CO32- (pH  10)
Fe2+FeCO3Tidak adanya O2 dan S2- (pH  8, alk > 10-2 eq/L)
Fe2+  Fe3+Fe(OH)31.     4 Fe2+ + 2H+ + O2 4Fe3+ + 2OH- atau 7 mg Fe/mg O2
2.     2Fe2+ + Cl2 2Fe3+ + 2Cl- atau 1,6 mg Fe/mg Cl2
3.     3Fe2+ + MnO4- + 4 H+ 3Fe3+ + MnO2 + 2H2O atau 1,06 mg Fe/mg MnO4
Mn2+ Mn4+MnOOH1.   2H+ + Mn2+ + ½ O2 Mn4+ + H2O atau 3,5 mg Mn/mg O2
2.   Mn2+ + Cl2 Mn4+ + 2Cl- atau 1,3 mg Mn/mg Cl2
3.   3Mn2+ + 2Mn7+ 5Mn4+ atau 0,52 mg Mn/mg MnO4
Sumber : Khumyahd (1991).

            Menurut Berthouex (1998), pencemaran alamiah terjadi karena pelapukan biogeokimia di dalam tanah akibat proses pencucian (leaching) bahan organik dari top soil pada proses perkolasi. Proses oksidasi biokimia akan menipiskan oksigen tanah dan memproduksi karbondioksida (CO2) yang semakin lama menghabiskan oksigen terlarut di dalam air dan akan digantikan oleh proses anaerobik (reduksi) atau proses fermentasi biokimia. Dalam kondisi yang demikian ini CO2 akan bereaksi dengan senyawa-senyawa karbonat pada batuan alam seperti CaCO3 (Calcite), FeCO3 (Siderit) dan MnCO3 (Rhodochrosite) menghasilkan mineral-mineral terlarut. Hal ini akan dipercepat lagi apabila terjadi keronggaan lapisan tanah dalam dan pergeseran lapisan tanah oleh gempa, sehingga dapat menyebabkan kandungan mineral besi, mangan dan kalsium di dalam air tanah menjadi meningkat seperti terlihat dalam reaksi di bawah ini :


Kriteria Desain Sumur Gali (skripsi dan tesis)

  Sumur gali yang memenuhi standar sanitasi harus memenuhi kriteria desain sebagai berikut :
  1. Dinding sumur harus diberi semen agar tanah tidak longsor dengan tinggi minimal 75 cm.
  2. Di sekeliling sumur dibuat lantai dari semen kedap air supaya tidak becek.
  3. Dinding sumur pada 1 - 2 meter dari permukaan air sumur merupakan kontruksi tumpukan bata tanpa plester semen (tidak kedap air)
  4. Dinding sumur di atas konstruksi tumpukan bata merupakan kontruksi pasangan batu bata diplester hingga bibir sumur (kedap air)
  5. Jarak sumur dari penampung kotoran maupun peresapan air kotor, minimal berjarak 10 meter.


Air Sumur (skripsi dan tesis)

Menurut Ahmad (1995) menyatakan bahwa air sumur merupakan sumber air bersih bagi sebagian besar penduduk dan dikenal ada dua macam air sumur yaitu :
  1. Air sumur dangkal (Sumur gali)
Yang termasuk dalam sumber air ini apabila kedalamannya kurang dari 50 meter. Kualitas sumber air ini sama dengan air permukaan tanah, sehingga sangat dipengaruhi oleh aktivitas manusia terutama aktivitas domestik apabila tidak dilakukan upaya sanitasi dengan baik.
  1. Air sumur dalam (Sumur bor/Deep well)
Yang termasuk dalam sumber air ini apabila kedalamannya lebih dari 50 meter. Kualitas air ini dipengarui oleh struktur geografis dan geologis wilayah setempat, sehingga sangat dipengarui oleh proses biogeokimia yang merupakan proses pelapukan mineral tanah secara alamiah

Air Sumur (skripsi dan tesis)

     Menurut Ahmad (1995) menyatakan bahwa air sumur merupakan sumber air bersih bagi sebagian besar penduduk dan dikenal ada dua macam air sumur yaitu :
  1. Air sumur dangkal (Sumur gali)
Yang termasuk dalam sumber air ini apabila kedalamannya kurang dari 50 meter. Kualitas sumber air ini sama dengan air permukaan tanah, sehingga sangat dipengaruhi oleh aktivitas manusia terutama aktivitas domestik apabila tidak dilakukan upaya sanitasi dengan baik.
  1. Air sumur dalam (Sumur bor/Deep well)
Yang termasuk dalam sumber air ini apabila kedalamannya lebih dari 50 meter. Kualitas air ini dipengarui oleh struktur geografis dan geologis wilayah setempat, sehingga sangat dipengarui oleh proses biogeokimia yang merupakan proses pelapukan mineral tanah secara alamiah

Air Sumur (skripsi dan tesis)

Menurut Ahmad (1995) menyatakan bahwa air sumur merupakan sumber air bersih bagi sebagian besar penduduk dan dikenal ada dua macam air sumur yaitu :
  1. Air sumur dangkal (Sumur gali)
Yang termasuk dalam sumber air ini apabila kedalamannya kurang dari 50 meter. Kualitas sumber air ini sama dengan air permukaan tanah, sehingga sangat dipengaruhi oleh aktivitas manusia terutama aktivitas domestik apabila tidak dilakukan upaya sanitasi dengan baik.
  1. Air sumur dalam (Sumur bor/Deep well)
Yang termasuk dalam sumber air ini apabila kedalamannya lebih dari 50 meter. Kualitas air ini dipengarui oleh struktur geografis dan geologis wilayah setempat, sehingga sangat dipengarui oleh proses biogeokimia yang merupakan proses pelapukan mineral tanah secara alamiah

Air Tanah Wilayah Perkotaan (skripsi dan tesis)

Menurut Sutrisno (2002), menyatakan bahwa wilayah perkotaan biasanya ditandai dengan luasan wilayah yang terbatas dengan jumlah penduduk yang besar, kepadatan yang tinggi, serta tingkat laju pertumbuhan penduduk yang tajam dan menerus, dengan perilaku sosial yang sangat heterogen. Juga ditandai dengan aktivitas yang tinggi dari pergerakan orang, barang dan jasa, sehingga perubahan penggunaan lahan yang cepat, dari lahan terbukan menjadi lahan tertutup bangunan. Akibat yang ditimbulkan adalah volume limbah padat, cair dan gas yang besar dan meningkat dari kegiatan domestik, jasa dan industri, dimana kegiatan jasa, industri, pendidikan, dan pariwisata lebih menonjol dibandingkan pertanian.
            Keterdapatan air tanah di wilayah perkotaan harus dipahami dari senua aspeknya seperti pembentukan, wadah (aquifer), penyebarannya, baik vertikal maupun horizontal terutama dikaitkan dengan kewenangan pengelolaan. Dengan ciri-ciri wilayah perkotaan yang demikian, memberikan konsekuensi terhadap keberadaan sumberdaya air/air tanah, dikarenakan kebutuhan pasokan air yang tinggi untuk memenuhi kebutuhan air minum, air bersih dan air industri, mengakibatkan terjadi perubahan jumlah limpasan permukaan (surface run-off ) dan imbuhan (recharge) dan ancaman pencemaran terutama terhadap air permukaan dan air tanah tak tertekan, terutama bila sistem buangan limbah cair dan padat, sampah dan sanitasi tidak memadai.

Air Tanah (skripsi dan tesis)

Menurut Tirtomihardjo (2003), Air tanah menunjukkan sumber daya alam yang ketersediaannya, baik kuantitas (jumlah) maupun kualitas (mutu) air tanahnya tergantung pada kondisi lingkungan di mana proses pengimbuhan, pengaliran dan pelepasan air tanah tersebut berlangsung pada suatu wadah yang disebut cekungan air tanah. Cekungan airtanah Merapi – Yogyakarta terletak pada lereng selatan Gunung Merapi yang dibatasi oleh Sungai Progo di sebalah barat dan Sungai Opak di sebelah timur dan di sebelah selatan dibatasi oleh Samudera Indonesia. Cekungan ini memiliki luas kurang lebih 1200 km2, dan meliputi tiga wilayah Kabupaten di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Ketiga wilayah kabupaten tersebut adalah Kabupaten Sleman, Kota Yogyakarta, dan Kabupaten Bantul. Sesuai dengan Rencana Umum Tata Ruang Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, wilayah lindung resapan air di cekungan ini terletak di Kabupaten Sleman, namun dalam kenyataannya implementasi rencana ini tidak berlaku sehingga semakin banyak aktivitas penduduk mengganti lahan pertanian dan hutan di daerah resapan menjadi perumahan dan pemukiman,  hotel, sekolah, industri dan kegiatan lainnya. Akibat dari kegiatan ini dapat dipastikan bahwa siklus air di cekungan airtanah ini akan terganggu dan salah satu akibatnya adalah penurunan volume resapan air ke dalam airtanah dan  perubahan kebutuhan air yang akan meningkatkan eksploitasi sumber-sumber air. Disinilah diperlukan perhitungan kembali potensi sumber daya air dan memperkirakan efek dari perubahan lahan terhadap kesetimbangan air di wilayah ini.
            Menurut Soemarto (1995), Air tanah adalah air yang menempati rongga-rongga dalam lapisan geologi. Lapisan tanah yang terletak di bawah permukaan air tanah dinamakan daerah jenuh (saturated zone), sedangkan daerah tidak jenuh terletak di atas daerah jenuh sampai ke permukaan tanah, yang rongga-rongganya berisi air dan udara. Karena air tersebut meliputi lengas tanah (soil moisture) dalam daerah perakaran (root zone), maka air mempunyai arti yang sangat penting bagi pertanian, botani dan ilmu tanah. Amtara daerah jenuh dengan tidak jenuh tidak ada garis batas yang tegas, karena keduanya mempunyai batas yang indipenden, dimana air dari kedua daerah tersebut dapat bergerak ke daerah yang lain atau sebaliknya. Beberapa pengetahuan yang menyangkut tanah seperti geologi, hidrologi, meteorologi dan oceanografi sangat berkepentingan dengan air tanah. Tetapi hidrologi air tanah dapat dipandang sebagai pengetahuan khusus yang merangkum unsur-unsur geologi, hidrologi dan mekanika fluida.
Geologi mempengaruhi distribusi air tanah, hidrologi menentukan pemasokan
(supply) air ke dalam tanah, dan mekanika fluida menjelaskan mengenai gerakannya. Ketersediaan air tanah di bumi tidak dapat terlepas dari siklus hidrologi dan komponen-komponen siklus tersebut. Bagi air tanah, komponen yang berpengaruh terhadap ketersediaannya adalah jumlah air hujan yang mengalami proses infiltrasi (peresapan ke dalam lapisan tanah) dan perkolasi (peresapan air ke dalam batuan di bawah permukaan) sebagai imbuhan air tanah. Pada proses infiltrasi dan perkolasi, tata guna lahan memiliki peranan yang sangat penting bahwa distribusi hujan setelah bersentuhan dengan bumi akan menaikkan imbuhan air tanah dan menurunkan limpasan (over land flow) atau sebaliknya. Komponen yang tidak kalah pentingnya memberikan pengaruh terhadap ketersediaan air tanah adalah ekstraksi (pengambilan air tanah), evaporasi (penguapan) air permukaan dan evapotranpirasi yang merupakan penguapan oleh sebab proses photosintesis tanaman.

Permukiman (skripsi dan tesis)

   Menurut Soemarwoto (2003) menyatakan bahwa permukiman merupakan kumpulan rumah tinggal penduduk yang didukung oleh sarana prasarana dan infrastruktur pendukung kehidupan. Dalam perkembangannya permukiman penduduk sangan dipengaruhi oleh komponen lingkungan seperti geofisikkimia, biologi, sosial budaya maupun ekonomi, politik dan kesehatan masyarakat.
            Dikaitkan dengan keadaan kesehatan lingkungan permukiman, permasalahan yang menonjol yang akan dihadapi adalah sebagai berikut.
Pertama, pertumbuhan penduduk yang cepat di daerah perkotaan akibat urbanisasi yang didorong oleh pesatnya kegiatan industrialisasi dan kegiatan perekonomian yang lainnya, akan membawa dampak samping yaitu tumbuhnya kawasan permukiman kumuh dan daerah rawan pencemaran dan penyakit menular. Disamping itu perpindahan penduduk antar pulau, pertumbuhan permukiman baru yang pesat juga dapat berperan terhadap penyebaran beberapa penyakit menular tertentu terutama yang ditularkan dengan perantaraan vektor, seperti penyakit malaria, filariasis, dan demam berdarah dengue (DBD).
Kedua, peningkatan kegiatan intervensi terhadap permukiman untuk berbagai kepentingan dalam kaitannya dengan proses pembangunan juga berpengaruh terhadap kualitas permukiman. Kemungkinan besar masalah yang timbul adalah meningkatnya kasus pencemaran yang berdampak terhadap kesehatan masyarakat akibat pembuangan limbah industri dan domestik, hasil buang dari sarana transportasi, timbul dan berkembangnya vektor penyakit, penggunaan bahan kimia (produk pestisida) dan sebagainya.
Ketiga, meningkatnya perkembangan teknologi dan tuntutan manusia serta pola hidup dan kerja, menyebabkan perubahan gaya hidup sehari-hari, khususnya terhadap konsumsi makanan/minuman. Diperkirakan kasus keracunan cengderung meningkat dan kasus-kasus penyakit akibat kerja juga akan semakin meningkat.
Keempat, sebagai dampak negatip dari globalisasi dan makin eratnya hubungan antar bangsa, memungkinkan penyakit-penyakit sosial seperti “sexually transmitted diseases” (AIDS, penyakit kelamin, dsb) akan cenderung meningkat pula dan semakin sulit untuk dicegah.
Kelima, masih belum terselesaikannya permasalahan lama dalam rangka penyediaan sarana dan fasilitas sanitasi dasar yang sehat seperti air bersih, sarana pembuangan kotoran dan limbah, perumahan yang sub standar, dan sebagainya juga akan berpengaruh terhadap upaya pemberantasan penyakit menular akibat buruknya sanitasi. Dengan demikian beberapa penyakit menular seperti diare, infeksi saluran pernafasan akut (ISPA), tuberculosa paru, malaria, dan demam berdarah dengue diperkirakan menjadi masalah kesehatan masyarakat meskipun angka kematiannya berhasil ditekan.
Ciri- ciri permukiman padat penduduk menurut Soemarwoto, adalah sebagai berikut:
  1. Jalan berupa gang kecil, dan
  2. Berada dipusat kota

Pengertian Sanitasi (skripsi dan tesis)

  Sanitasi adalah suatu upaya memelihara dan mencegah terjadinya penyakit, sehingga dapat memperbaki dan meningkatkan derajad kesehatan. Pada awalnya sanitasi didifinisikan sabagai usaha menyangkut pemberantasan dan pencegahan penyakit  (Purdom, 1971).
            Semua pengertian mengenai pemeliharaan kesehatan masyarakat adalah tergabung dalam ilmu suatu ilmu khusus yang disebut ilmu pemeliharaan kesehatan atau yang lazim disebut Ilmu Kesehatan masyarakat (Public Health). Istilah sanitasi mempunyai tujuan yaitu mengusahakan cara hidup sehat, sehingga seseorang terhindar dari suatu penyakit. Usaha sanitasi adalah merupakan usaha mencegah penyakit yang dititik beratkan pada penghindaran penyakit yang disebabkan oleh faktor-faktor lingkungan hidup, seperti makan, minum, perumahan, penyediaan air minum, kebersihan individu, pembuatan WC yang memenuhi syarat dan lain sebagainya (Ahmad, 1995).
            Departemen Kesehatan merupakan salah satu instansi teknis yang ikut bertanggung jawab dalam upaya pengelolaan lingkungan hidup yang terkait erat dengan masalah kesehatan, melalui upaya peningkatan kesehatan lingkungan. Oleh karena itu peningkatan kesehatan lingkungan yang dikembangkan oleh sektor kesehatan bertujuan untuk mewujudkan kondisi lingkungan yang mampu mendorong derajad kesehatan masyarakat dan keluarga yang lebih baik, sehingga diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap peningkatan produktivitas masyarakat sebagai bagian dari perwujudan pengembangan sumber daya manusia. Pada dasarnya upaya peningkatan kesehatan lingkungan yang dilaksanakan oleh sektor kesehatam merupakan rangkaian proses kegiatan guna meningkatkan kemampuan manusia untuk hidup serasi dengan lingkungannya, mempengaruhi cara interaksi manusia dengan lingkungannya, dan mengawasi serta mengembangkan unsur-unsur lingkungan yang berpengaruh terhadap kesehatan berdasarkan permasalahan yang dihadapi, tuntutan dan kebutuhan masyarakat, serta kemampuan yang ada (DepKes, 1992)
            Usaha kesehatan masyarakat (public health) mempunyai dua usaha pokok yaitu :
  1. Usaha Kesehatan Preventif
      Termasuk dalam kesehatan preventif adalah :
1)   Sanitasi Lingkungan (Environmental Sanitation)
2)   Hygiene Perorangan (Individual Hygiene)
3)   Kedokteran Preventif (Preventive Medicine)
  1. Usaha Kesehatan Kuratif
Termasuk dalam usaha ini adalah :
1)   Pengobatan (Curative Medicine)
2)   Perawatan (Nursing)
3)   Rehabilitasi (Rehabilitation)
            Dalam dunia modern, usaha kesehatan masyarakat lebih mementingkan usaha kesehatan preventif, walaupun kedua usaha tersebut di atas sama pentingnya dan tidak dapat dipisahkan satu sama lainnya. Hal ini disebabkan karena ada suatu faham yang mengatakan bahwa “Prevention is Better than Cure” yang artinya “Pencegahan lebih baik dari pengobatan”. Pendapat ini berlandaskan pemikiran, bahwa usaha kesehatan preventif lebih menguntungkan secara sosial ekonomi, sebab biaya yang dikeluarkan untuk pencegahan lebih sedikit dibanding setelah orang jatuh sakit (biaya dokter, perewatan di rumah sakit, obat-obatan dan lain-lain) (Ahmad, 1995)

Pengolahan Air Limbah (skripsi dan tesis)

Tujuan utama pengolahan air limbah adalah untuk mengurangi BOD, partikel tercampur, serta membunuh organisme patogen. Selain itu diperlukan juga tambahan pengolahan untuk menghilangkan bahan nutrisi, komponen beracun, serta bahan yang tidak dapat didegradasikan agar konsentrasi yang ada menjadi rendah (Sugiharto, 1987). Untuk itu diperlukan pengolahan secara bertahap agar bahan tersebut di atas dapat dikurangi.
Beberapa cara prngolahan air limbah yang telah diterapkan dan terus dikembangkan secara umum dibagi menjadi tiga metode pengolahan (Ginting, 1995), antara lain pengolahan secara fisik, kimia dan biologis.
  1. Pengolahan Fisik
Maksud dilakukan pengolah fisik adalah untuk mengurangi sifat – sifat fisik air limbah seperti zat – zat padat baik pasir atau zat padat kasar terapung maupun terlarut. Yang termasuk dalam pengolahan fisik / fisika adalah Screen, Comunitor, Grid Chamber, Sedimentasi, Flotasi, Filtrasi.
  1. Screen, biasanya merupakan tahap awal pada proses pengolahan air limbah. Proses ini bertujuan untuk memisahkan potongan – potongan kayu, plastik dan sebagainya.
  2. Comunitor, bertujuan untuk memecahkan benda – benda kasar dalam air limbah kasar yang masih lolos dari unit screen.
  3. Grid Chamber, bertujuan untuk menghilangkan kerikil, pasir dan partikel – partikel lain yang dapat mengendap di dalam saluran dan pipa – pipa serta untuk melindungi pompa – pompa dan peralatan lain dari penyumbatan, abrasi dan overloading.
  4. Sedimentasi, adalah pemisahan partikel dari air dengan memanfatkan gaya gravitasi. Proses ini bertujuan untuk memperoleh air buangan yang jernih dan mempermudah proses penanganan lumpur.
  5. Flotasi, berfungsi untuk memisahkan benda – benda terapung atau yang mempunyai berat jenis lebih kecil dari berat jenis air. Salah satu caranya adalah dengan menyuplai oksigen bertekanan sehingga partikel mengapung di permukaan air limbah.
  6. Filtrasi, berfungsi untuk memisahkan sisa suspended solid yang tertinggal setelah pengolahan biologis atau kimia. Filtrasi dapat menggunakan media pasir dan kerikil. Filtrasi biasanya ditempatkan pada pengolahan tingkat ketiga apabila pengolahan pertama dan kedua masih kurang bagus kualitasnya.
  7. Pengolahan Kimia
Pengolahan secara kimia pada air limbah, lazimnya digunakan untuk menghilangkan partikel yang tidak mudah mengendap (koloid), logam – logam berat, senyawa phosphor dan organik beracun. Prinsip pengolahan secara kimia adalah dengan membubuhkan bahan kimia tertentu pada air limbah, sehingga terjadi perubahan sifat pada air limbah, yaitu; perubahan dari tak dapat mengendap menjadi dapat mengendap (koagulasi dan flokulasi), serta dari air limbah yang beracun menjadi tak beracun (netralisasi) dan dengan cara – cara lainnya.
  1. Pengolahan Biologis
Unit proses biologi adalah proses – proses pengolahan air limbah yang memanfaatkan aktifitas kehidupan mikroorganisme untuk memindahkan polutan. Dalam unit proses pengolahan air limbah secara biologis, diharapkan terjadi proses penguraian secara alami untuk membersihkan air sebelum dibuang. Perbedaan mendasar antara proses alami dan artifisial adalah dalam hal intensitas proses. Dibandingkan dengan proses alami, proses biologi biasanya berlangsung lebih cepat dan membutuhkan tempat yang lebih sedikit. Hal ini merupakan keuntungan utama dalam proses biologi. Namun peningkatan intensitas menyebabkan proses lebih sensitif sehingga memerlukan proses kontrol yang intensif dan teliti. (Siregar, 2005)


Pengaruh Buruk Air Limbah (skripsi dan tesis)

Air limbah sangat berbahaya terhadap kesehatan manusia mengingat banyak penyakit yang ditularkan melalui air limbah. Air limbah ini ada yang berfungsi sebagai pembawa penyakit saja seperti kolera, radang usus, hepatitis, tetapi air limbah juga mengandung banyak organisme patogen penyebab penyakit seperti virus, vibrio kolera, salmonella spp., Shigella spp., Basillus anthraksis, dan jenis mikroorganisme patogen lainnya. Air limbah juga mengandung bahan beracun penyebab iritasi, bau, dan suhu yang tinggi serta bahan mudah terbakar (Udin et al., 1991).
Air limbah mempunyai sifat fisik, kimiawi dan bakteriologi yang dapat menjadi sumber pengotoran lingkungan. Apabila tidak dikelola dengan baik akan dapat menimbulkan pencemaran air permukaan, air tanah atau lingkungan hidupnya. Disamping itu kadang – kadang menimbulkan bau yang tidak enak serta pemandangan yang tidak menyenangkan. Dalam Peraturan Pemerintah No. 82 Tahun 2004 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran pada Pasal 4 ayat (2) dinyatakan bahwa pengendalian pencemaran air dilakukan untuk menjamin kualitas air agar sesuai dengan baku mutu air melalui upaya pencegahan dan penanggulangan pencemaran air serta pemulihan kualitas air. Sehingga perlu dilakukan upaya untuk mengurangi dampak buruk air limbah terhadap lingkungan.

Air Limbah Domestik (skripsi dan tesis)

     Yang dimaksud dengan air limbah domestik adalah air limbah yang berasal dari kegiatan rumah tangga, yang terdiri dari bahan buangan tubuh manusia dan pembersih tubuh, pakaian, dan peralatan rumah tangga. Air limbah domestik yang berasal dari bahan buangan manusia dari tinja dan air kemih, sedang yang berasal dari penyiapan bahan makanan dan pembersihan misalnya : sisa bahan makanan, bahan pencuci, bahan pembersih, dan lain – lain.
            Air limbah domestik berwarna abu-abu keruh dan tidak begitu merangsang baunya ketika masih baru. Air limbah domestik terdiri dari air dan padatan terapung dan tersuspensi, koloid dan terlarut (Mara, 1976). Di daerah tropik air limbah domestik akan segera kehilangan oksigen sehingga menyebabkan bau busuk yang sangat menyengat.
            Padatan dalam air limbah terdiri dari fraksi anorganik dan fraksi organik. Fraksi anorganik meliputi butiran kasar, garam dan logam. Fraksi organik meliputi protein, karbohidrat, lemak, dan minyak (Reynolds, 1995). Di samping senyawa kimia, tinja dan air kemih juga mengandung  berjuta bakteri usus an sejumlah organisme lain. Sebagian besar bakteri tidak berbahaya, bahkan bermanfaat, tetapi sebagian kecil mampu menimbulkan penyakit. Senyawa organik terutama protein dan karbohidrat adalah makanan yang paling disukai oleh bakteri, sehingga dapat dimanfaatkan untuk penogolahan air limbah secara biologi.
            Sumber utama air limbah domestik berasal dari perumahan dan daerah perdagangan, sementara sumber lainnya adalah perkantoran atau lembaga serta dari tempat rekreasi. Untuk daerah perumahan, air limbah domestik biasanya diperhitungkan melalui jumlah kepadatan penduduk dan rata – rata tiap orang dalam membuang air limbahnya. Semakin tinggi tingkat kepadatan penduduk di suatu permukiman,  maka semakin besar jumlah air limbah yang dihasilkan (Metcalf dan Eddy, 1991 ).

Karakteristik Air Limbah (skripsi dan tesis)

arakteristik air limbah dapat dibedakan menurut kualitas dan kuantitasnya. Yang dimaksud dengan kualitas karakteristik air buangan adalah ditinjau dari segi fisik, kimia, dan biologi; sedangkan kuantitasnya adalah besarnya kapasitas atau debit air buangan yang dihitung berdasarkan pemakaian dalam memenuhi kebutuhan sehari – hari baik itu domestik maupun non domestik.
Secara umum karakteristik kualitas air buangan dapat ditentukan oleh dua faktor yaitu: kadar Suspended Solid (SS) dari air buangan dan kadarBiological Oxygen Demand (BOD) air buangan. Karakteristik air buangan menurut kualitasnya terdiri dari :
  1. Sifat Fisik
  • Warna
Warna air buangan dipengaruhi oleh umur, komposisi zat yang terdapat dalam air buangan dari proses dekomposisi yang dilakukan mikroorganisme terhadap zat yang terkandung dalam air buangan tersebut. Perubahan warna dimulai dari warna kuning, coklat tua, kelabu, yang akhirnya menjadi hitam dimana pada saat itu kadar oksigen yang diperlukan oleh mikroorganisme untuk proses dekomposisi mendekati nol.
  • Bau
Bau yang dihasilkan dari dekomposisi zat organik diantaranya berupa gas H2S, NH3 dan CH4. Bau yang timbul ditentukan oleh umur air buangan, bau yang tajam biasanya dimulai pada saat proses penguraian yang menghasilkan gas.
  • Temperatur
Temperatur merupakan parameter yang dapat mempengaruhi kehidupan di dalam air yaitu mengubah reaksi kimia dan mempengaruhi penggunaan sumber daya air. Temperatur air buangan biasanya lebih tinggi dari temperatur air bersih, hal ini disebabkan adanya panas dari aktivitas domestik dan industri. Temperatur dapat mempengaruhi proses penguraian, aktifitas dan perkembangan mikroorganisme serta berpengaruh pada kelarutan oksigen (dissolved oxygent) menjadi lebih kecil. Hal ini mengakibatkan timbulnya bau lebih cepat dan perubahan komposisi zat organik serta viskositas cairan akan bertambah.
  • Kekeruhan
Kekeruhan disebabkan oleh adanya zat padat yang tidak terlarut dalam air. Zat padat dibedakan menjadi zat padat yang tersisa setelah pemanasan pada temperatur 600°C.
  1. Sifat Kimia
  • Zat Organik
Zat organik berasal dari tumbuhan, hewan dan aktivitas manusia yang tersusun dalam komposisi ikatan karbon, H2O, O2 bersama N2. Unsur lain yang biasanya terdapat dalam air buangan adalah sulfur, fosfor dan besi. Dalam air buangan domestik terkandung 40-60 % protein, 25-50 % karbohidrat dan 10 % lipida.
  • Zat Anorganik
Beberapa komponen zat anorganik dari air buangan adalah sangat penting untuk meningkatkan dan pengawasan kualitas air minum. Pemeriksaan zat anorganik biasanya dilakukan terhadasp pH, logam berat, nitrogen, fosfor, dan zat-zat beracun. Pendekatan komposisi air buangan domestik menurut T.H.Y Tebbut (1970), adalah sebagai berikut :
  • Gas – Gas
Gas-gas dihasilkan oleh aktifitas biologis dan reaksi kimia yang terdapat dalam air buangan. Gas-gas ini berasal dari atmosfer (N2, O2, CO2) dan dekomposisi zat organik (H2S, NH3, CH4).
  1. Sifat Biologi
Bakteri – bakteri yang berada dalam air buangan berupa bakteri aerobik, anaerobik dan fakultatif, macam – macam bakteri tersebut adalah :
-     Bakteri patogen berasal dari buangan manusia yang sifatnya sangat berbahaya.
-     Bakteri Coli sebagai indikatorpencemaran karena coli mudah dikembangbiakkan dan selalu ada di dalam tinja manusia.


Bakteri Acetobacter xylinum (skripsi dan tesis)

Acetobacter adalah sebuah genus bakteri penghasil asam asetat, ditandai dengan kemampuannya mengubah etanol (alkohol) menjadi asam asetat (asam cuka) dengan bantuan udara. Ada beberapa bakteri dari golongan lain yang mampu menghasilkan asam asetat dalam kondisi tertentu, namun semua anggota genus Acetobacter dikenal memiliki kemampuan ini.
Bakteri-bakteri Acetobacter dikenal penting secara komersial, antara lain karena dapat digunakan dalam produksi cuka (dengan sengaja mengubah etanol pada anggur menjadi asam asetat namun dapat juga merusak anggur, dengan menghasilkan asam asetat atau etil asetat, yang merusak rasa anggur tersebut. Pertumbuhan Acetobacter pada anggur dapat dicegah dengan sanitasi yang efektif, pemisahan udara dari anggur secara sempurna, maupun penggunaan secukupnya sulfur dioksida sebagai pengawet pada anggur. Di laboratorium, Acetobacter dikenali dengan mudah dengan pertumbuhan koloninya di medium yang mengandung 7% etanol, dan ditambahi kalsium karbonat secukupnya untuk memburamkan medium sebagian. Ketika koloni tersebut membentuk asam asetat yang cukup, kalsium karbonat kemudian melarut sehingga terbentuk daerah bening yang jelas pada medium. (Martinko, 2005)
Salah satu spesies acetobacter yang banyak dikenal adalah Acetobacter xylinum. Spesies ini adalah bakteri gram negatif yang memiliki kemampuan sintesis prolific selulosa yang unik yaitu dengan mensekresikan kristal-kristal mini yang bersatu membentuk microfibrils. Material ini kemudian membentuk senyawa yang lebih besar yang disebut sebagai pita. Pita inilah yang secara langsung dapat kita lihat dengan mikroskop cahaya biasa.  (Bergey’s, 1984)
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan       : Bacteria
 Filum           : Proteobacteria
 Kelas           : Alpha Proteobacteria
 Ordo            : Rhodospirillales
 Familia        : Pseudomonadaceae
 Genus          : Acetobacter
Spesies         : xilynum
Gambar 2. Acetobacter Xilynum (Sdumber: Bergey’s, 1984)
Keterangan:
  1. Dinding sel
  2. Membran sel
  3. Kapsul
  4. Citoplasma


FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PEMBUATAN  NATA (skripsi dan tesis)

Untuk menghasilkan produksi nata yang maksimal perlu diperhatikan faktor-faktor sebagai berikut :


  1. Jenis dan konsentrasi medium
Medium fermentasi ini harus banyak mengandung karbohidrat (gula) disamping vitamin dan mineral, karena pada hakekatnya nata tersebut adalah slime ( menyerupai kapsul) dari sel bakteri yang kaya selulosa yang diproduksi dari glukosa oleh bakteri Acetobacter xylinum.
Pembentukan nata terjadi karena proses pengambilan glukosa dari larutan gula kemudian digabungkan dengan asam lemak membentuk precursor (penciri nata) pada membrane sel. Precursor ini selanjutnya dikeluarkan dalam bentuk ekskresi dan bersama enzim mempolimerisasi glukosa menjadi selulosa yang merupakan bahan dasas pembentukan slime (Palungkun,1993).
Menurut Rahman (1992) nata ini merupakan hasil fermentasi dari Acetobacter xylinum, bakteri ini dapat tumbuh dan berkembang dalam medium gula dan akan mengubah gula menjadi selulosa. Kadar karbohidrat optimum untuk berlangsungnya produksi nata adalah 10%.
  1. Jenis dan konsentrasi starter
Pada umumnya Acetobacter xylinum merupakan starter yang lebih produktif dari jenis starter lainnya, sedang konsentrasi 5-10% merupakan konsentrasi yang ideal (Rahman, 1992).


  1. Lama fermentasi
lama fermentasi yang digunakan dalam pembuatan nata pada umumnya 2-4 minggu. Minggu ke-4 dari waktu fermentasi merupakn waktu maksimal produksi nata, yang berarti lebih dari 4 minggu prodfuksi nata akan menurun (Awang, 1991).
  1. Suhu fermentasi
pada umumnya suhu untuk pertumbuhan bakteri pembuat nata adalah suhu kamar (280C). suhu yang terlalu rendah maupun terlalu tinggi akan menggangu pertumbuhan bakteri pembuat nata yang akhirnya juga akan menghambat produksi nata.
  1. pH fermentasi
derajat keasaman yang dibtuhkan dalam pembuatan nata adalah 3-5 atau dalam suasan asam. Pada kedua sisi pH optimum, aktifitas enzim seringkali menurun dengan tajam. Penurunan pH bisa terjadi akibat fermentasi karbohidrat menjadi asam, sehingga semakin lam fermentasinya maka akan semakin cenderung terjadi penurunan pH medium.
  1. Jenis dan konsentrasi suplemen
kandungan karbohidrat dalam bahan untuk membuat nata merupakan bahan yang terpenting. Limbah dengan kadar karbohidrat rendah jika ingin digunakan sebagai medium pembuatan nata perlu ditambahkan gula pasir.

  1. Tempat fermentasi
Tempat fermentasi sebaiknya tidak terbuat dari unsur logam karena mudah korosif yang dapat mengganggu pertumbuhan mikroorganisme pembuat nata, yang akhirnya dapat mengganggu pembuatan nata. Disamping itu tempat fermentasi diupayakan untuk tidak mudah terkontaminasi, tidak terkena cahaya matahari  secara langsung, jauh dari sumber panas, dan jangan sampai langsung berhubungan dengan tanah. Hasil penelitian Hubeis dkk (1996) tempat fermentasi yang mempunyai permukaan lebih luas akan menghasilkan nata lebih tebal dari pada tempat fermentasi yang mempunyai permukaan sempit.

UREA (skripsi dan tesis)

Urea merupakan senyawa organic yang terdiri dari karbon, nitrogen, oksigen, dan hidrogen, dengn rumus CON2H4 atau (NH2)2CO. Urea juga dikenal dengan karbamid, khususnya dalam penggunaannya di Eropa. Urea merupakan senyawa organic pertama yang dapat disintesa secara buatan dari material inorganik.
Urea diproduksi secara komersial dari dua material, yaitu ammonia dan karbon dioksida. Karbon dioksida sendiri merupakan hasil produksi dari pembuatan Amonia dari hidrokarbon. Produksi Urea terjadi pada reaksi kimia yang setimbang pda konversi tertentu.
Dua reaksi yang menjadi pronsip sinteas urea adalah
Reaksi pertama bersifat eksotermis:
2NH3 + CO2 → H2N-COONH4 (ammonium carbamate)
Sedangkan reaksi kedua bersifat endotermis
H2N-COONH4 → (NH2)2CO + H2O
Namun secara keseluruhan reaksi bersifat eksotermis.
Urea merupakan denaturant protein yang sangat kuat. Sifat ini dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kelarutan dari beberapa jenis protein. Menurut Adi (2006), Urea adalah sumber nutrisi bagi bakteri yang melakukan fermentasi sari kelapa atau whey menjadi nata. Fungsi utamanya sebagai penyedia nitrogen, dng adanya suplai nitrogen tambahan, bakteri akan berkembang  biak  secara cepat. Sebenarnya di dalam air kelapa atau whey sudah ada nitrogen, namun dalam bentuk organik, sehingga tidak dapat langsung dimanfaatkan oleh bakteri karena bakteri hanya dapat menggunakan nitrogen dalam bentuk inorganik: - nitrate [NO3-] atau ammonium [NH4+].