Tampilkan postingan dengan label PTK. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PTK. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 14 Oktober 2017

MANFAAT PENELITIAN TINDAKAN KELAS (skripsi dan tesis)

sejumlah manfaat PTK antara lain sebagai berikut.
  1. Menghasilkan laporan-laporan PTK yang dapat dijadikan bahan panduan bagi para pendidik (guru) untuk meningkatkan kulitas pembelajaran. Selain itu hasil-hasil PTK yang dilaporkan dapat dijadikan sebagai bahan artikel ilmiah atau makalah untuk berbagai kepentingan antara lain disajikan dalam forum ilmiah dan dimuat di jurnal ilmiah.
  2. Menumbuhkembangkan kebiasaan, budaya, dan atau tradisi meneliti dan menulis artikel ilmiah di kalangan pendidik. Hal ini ikut mendukung professionalisme dan karir pendidik.
  3. Mewujudkan kerja sama, kaloborasi, dan atau sinergi antarpendidik dalam satu sekolah atau beberapa sekolah untuk bersama-sama memecahkan masalah dalam pembelajaran dan meningkatkan mutu pembelajaran.
  4. Meningkatkan kemampuan pendidik dalam upaya menjabarkan kurikulum atau program pembelajaran sesuai dengan tuntutan dan konteks lokal, sekolah, dan kelas. Hal ini turut memperkuat relevansi pembelajaran bagi kebutuhan peserta didik.
  5. Memupuk dan meningkatkan keterlibatan, kegairahan, ketertarikan, kenyamanan, dan kesenangan siswa dalam mengikuti proses pembelajaran di kelas. Di samping itu, hasil belajar siswa pun dapat meningkat.
  6. Mendorong terwujudnya proses pembelajaran yang menarik, menantang, nyaman, menyenangkan, serta melibatkan siswa karena strategi, metode, teknik, dan atau media yang digunakan dalam pembelajaran demikian bervariasi dan dipilih secara sungguh-sungguh.

OUTPUT DARI PENELITIAN TINDAKAN KELAS (skripsi dan tesis)


Output atau hasil yang diharapkan melaltu PTK adalah peningkatan atau
1.       perbaikan kualitas proses dan hasil pembelajaran yang meliputi hal-hal sebagai berikut.
2.       Peningkatan atau perbaikan kinerja siswa di sekolah.
3.       Peningkatan atau perbaikan mutu proses pembelajaran di kelas.
4.       Peningkatan atau perbaikan kualitas penggunaan media, alat bantu belajar, dan sumber belajar lainya.
5.       Peningkatan atau perbaikan kualitas prosedur dan alat evaluasi yang digunakan untuk mengukur proses dan hasil belajar siswa.
6.       Peningkatan atau perbaikan masalah-masalah pendidikan anak di sekolah.
7.       Peningkatan dan perbaikan kualitas dalam penerapan kurikulum dan pengembangan kompetensi siswa di sekolah.


TUJUAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS (skripsi dan tesis)

tujuan PTK antara lain:
  1. Meningkatkan mutu isi, masukan, proses, dan hasil pendidikan dan pembelajaran di sekolah.
  2. Membantu guru dan tenaga kependidikan lainnya dalam mengatasi masalah pembelajaran dan pendidikan di dalam dan luar kelas
  3. Meningkatkan sikap profesional pendidik dan tenaga kependidikan.
  4. Menumbuh-kembangkan budaya akademik di lingkungan sekolah sehingga tercipta sikap proaktif di dalam melakukan perbaikan mutu pendidikan/pembelajaran secara berkelanjutan.

PERMASALAHAN DALAM LINGKUP PENELITIAN TINDAKAN KELAS (skripsi dan tesis)

Permasalahan tersebut di antaranya adalah sebagai berikut.
  1. Masalah belajar siswa di sekolah, seperti misalnya permasalahan pem- belajaran di kelas, kesalahan-kesalahan dalam pembelajaran, miskonsepsi, misstrategi, dan lain sebagainya.
  2. Pengembangan profesionalisme guru dalam rangka peningkatan mutu perencanaan, pelaksanaan serta evaluasi program dan hasil
  3. Pengelolaan dan pengendalian, misalnya pengenalan teknik modifikasi perilaku, teknik memotivasi, dan teknik pengembangan potensi diri.
  4. Desain dan strategi pembelajaran di kelas, misalnya masalah pengelolaan dan prosedur pembelajaran, implementasi dan inovasi penggunaan metode pembelajaran (misalnya penggantian metode mengajar tradisional dengan metode mengajar baru), interaksi di dalam kelas (misalnya penggunaan stretegi pengajaran yang didasarkan pada pendekatan tertentu).Penanaman dan pengembangan sikap serta nilai-nilai, misalnya pengembangan pola berpikir ilmiah dalam diri siswa.
  5. Alat bantu, media dan sumber belajar, misalnya penggunaan media perpustakaan, dan sumber belajar di dalam/luar kelas.
  6. Sistem assesment atau evaluasi proses dan hasil pembelajaran, seperti misalnya masalah evaluasi awal dan hasil pembelajaran, pengembangan instrumen penilaian berbasis kompetensi, atau penggunaan alat, metode evaluasi tertentu
  7. Masalah kurikulum, misalnya implementasi KBK, urutan penyajian meteri pokok, interaksi antara guru dengan siswa, interaksi antara siswa dengan materi pelajaran, atau interaksi antara siswa dengan lingkungan belajar.

KOMPONEN PENELITIAN TINDAKAN KELAS (skripsi dan tesis)

komponen yang terdapat dalam sebuah kelas yang dapat dijadikan sasasaran PTK adalah sebagai berikut.
  1. Siswa, dapat dicermati obyeknya ketika siswa sedang mengikuti proses pembelajaran. Contoh permasalahan tentang siswa yang dapat menjadi sasaran PTK antara lain perilaku disiplin siswa, motivasi atau semangat belajar siswa, keterampilan berpikir kritis, kemampuan memecahkan masalah dan lain-lain.
  2. Guru, dapat dicermati ketika yang bersangkutan sedang mengajar atau membimbing siswa. Contoh permasalahan tentang guru yang dapat menjadi sasaran PTK antara lain penggunaan metode atau strategi pembelajaran, penggunaan pendekatan pembelajaran, dan sebagainya.
  3. Materi pelajaran, dapat dicermati ketika guru sedang mengajar atau menyajikan materi pelajaran yang ditugaskan pada siswa. Contoh permasalahan tentang materi yang dapat menjadi sasaran PTK misalnya urutan dalam penyajian materi, pengorganisasian materi, integrasi materi, dan lain sebagainya.
  4. Peralatan atau sarana pendidikan, dapat dicermati ketika guru sedang mengajar dangan menggunakan peralatan atau sarana pendidikan tertentu. Contoh permasalahan tentang peralatan atau sarana pendidikan yang dapat menjadi sasaran PTK antara lain pemanfaatan laboratorium, penggunaan media pembelajaran, dan penggunaan sumber belajar.
  5. Hasil pembelajaran yang ditinjau dari tiga ranah (kognitif, afektif, psikomotorik), merupakan produk yang harus ditingkatkan melalui PTK. Hasil pembelajaran akan terkait dengan tindakan yang dilakukan serta unsur lain dalam proses pembelajaran seperti metode, media, guru, atau perilaku belajar siswa itu sendiri.
  6. Lingkungan, baik lingkungan siswa di kelas, sekolah, maupun yang lingkungan siswa di rumah. Dalam PTK, bentuk perlakuan atau tindakan yang dilakukan adalah mengubah kondisi lingkungan menjadi lebih kondusif misalnya melalui penataan ruang kelas, penataan lingkungan sekolah, dan tindakan lainnya.
  7. Pengelolaan, merupakan kegiatan dapat diatur/direkayasa dengan bentuk tindakan. Contoh permasalahan tentang pengelolaan yang dapat menjadi sasaran PTK antara lain pengelompokan siswa, pengaturan jadwal pelajaran, pengaturan tempat duduk siswa, penataan ruang kelas, dan lain sebagainya.

JENIS-JENIS PENELITIAN TINDAKAN KELAS (skripsi dan tesis)


Ada empat jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang akan dibahas yakni: PTK diagnostik; PTK partisipan; PTK empiris; dan PTK eksperimental. Untuk lebih jelasnya, berikut dijelaskan secara singkat mengenai keempat jenis PTK tersebut.
1. Penelitian Tindakan Kelas Diagnostik
Yang dimaksud PTK diagnostik adalah penelitian yang dirancang dengan dengan menuntun peneliti ke arah suatu tindakan. Dalam hal ini peneliti mendiagnosis dan memasuki situasi yang terdapat didalam latar penelitian.
2. Penelitian Tindakan Kelas Partisipan
Suatu penelitian tindakan kelas yang dikatakan partisipan adalah apabila orang yang akan melakukan atau melaksanakan penilaian harus ikut terlibat langsung dalam proses penelitian sejak awal sampai dengan hasil penelitian berupa laporan.
3. Penelitian Tindakan Kelas Empiris
Yang dimaksud PTK empiris ialah apabila peneliti berupaya melaksankan sesuatu tindakan atau aksi dan membukakan apa yang dilakukan dan apa yang terjadi selama aksi berlangsung. Pada prinsipnya proses penelitiannya berkenaan dengan penimpanan catatan dan pengumpulan pengalaman peneliti dalam pekerjaan sehari-hari.
4. Penelitian Tindakan Kelas Eksperimental
Jenis PTK ini memiliki nilai potensial terbesar dalam kemajuan pengetahuan ilmiah. Yang dikategorikan sebagai PTK eksperimental ialah apabila PTK diselenggarakan dengan berupaya menerapkan berbagai teknik atau strategi secara efektif dan efesien didalam suatu kegiatan belajar mengajar. Didalam kaitannya dengan kegiatan belajar mengajar dimungkinkan terdapat lebih dari satu strategi atau teknik yang ditetapkan untuk mencapai suatu tujuan instruksional. Dengan diterapkannya PTK ini diharapkan peneliti dapat menentukan cara mana yang paling efektif untuk mencapai tujuan pengajaran.

KARAKTERISTIK PENELITIAN TINDAKAN KELAS (skripsi dan tesis)

Adapun beberapa karakter tersebut adalah:
  1. PTK hanya dilakukan oleh guru yang memahami bahwa proses pembelajaran perlu diperbaiki dan ia terpanggil jiwanya untuk memberikan tindakan-tindakan tertentu untuk membenahi masalah dalam proses pembelajaran dengan cara melakukan kolaborasi. Menurut Usman (dalam Daryanto,2011:2) guru dengan kompetensi tinggi merupakan seorang yang memiliki kemampuan dan keahlian serta keterampilan dalam bidangnya. Sehingga Ia dapat melakukan fungsi dan tugasnya sebagai pengajar dan pendidik dengan maksimal.
  2. Refleksi diri, refleksi merupakan salah satu ciri khas PTK yang paling esensial. Dan ini sekaligus sebagai pembeda PTK dengan penelitian lainnya yang menggunakan responden dalam mengumpulkan data, sementara dalam PTK pengumpulan data dilakukan dengan refleksi diri. (Tahir,2012:80)
3.Penelitian tindakan kelas dilaksanakan di dalam “kelas” sehingga interaksi antara siswa dengan guru dapat terfokuskan secara maksimal. “Kelas” yang dimaksud di sini bukan hanya ruang yang berupa gedung, melainkan “tempat” berlangsungnya proses pembelajaran antara guru dan murid. (Suyadi,2012:6)
  1. PTK bertujuan untuk memperbaiki proses pembelajaran secara terus menerus. PTK dilaksakan secara berkesinambungan di mana setiap siklus mencerminkan peningkatan atau perbaikan. Siklus sebelumnya merupakan patokan untuk siklus selanjutnya. Sehingga diperoleh model pembelajaran yang paling baik. (Daryanto,2011:6)
5.PTK merupakan salah satu indikator dalam peningkatan profesionalisme guru, karena PTK memberi motivasi kepada guru untuk berfikir Kritis dan sistematis, membiasakan guru untuk menulis, dan membuat catatan yang dapat. Di mana semua itu dapat menunjang kemampuan guru dalam pembelajaran. (Daryanto,2011:6)
6.PTK bersifat fleksibel sehingga mudah diadaptasikan dengan keadaan kelas. Dengan demikian proses pembelajaran tidak monoton oleh satu model saja.(Tahir,2012:81)
7.PTK menggunakaan metode kontekstuall. Artinya variable- variable yang akan dipahami selalu berkaitan dengan kondisi kelas itu sendiri. Sehingga data yang diperoleh hanya berlaku untuk kelas itu saja dan tidak dapat digeneralisasikan dengan kelas lain. (Tahir,2012:81)
8.PTK dalam pelaksanaannya terbikai dalam beberapa pembagian waktu atau siklus. (Sukardi,2011:212)
9.PTK tidak diatur secara khusus untuk memenuhi kepentingan penelitian semata. melainkan harus disesuaikan dengan program pembelajaran yang sedang berjalan di kelas tersebut. (Sanjaya,2010:34)

Menurut Ibnu (dalam Aqib,2009:16) memaparkan bahwa PTK memiliki karakteristik dasar yaitu:
a.Dalam pelaksanaan tindakan berdasarkan pada masalah yang dihadapi guru;
  1. Adanya perpaduan dalam pelaksanaanya;
c.Peneliti sebagai media yang melakukan refleksi;
d.Bertujuan memperbaiki dan atau meningkatkan kualitas praktik instruksional;
e.Dalam pelaksanaannya terbagi beberapa siklus atau periode.

PENGERTIAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS (skripsi dan tesis)


Beberapa pengertian PTK berikut ini :
a. Menurut Lewin (Tahir 2012:77), PTK merupakan siasat guru dalam mengaplikasikan pembelajaran dengan berkaca pada pengalamnya sendiri atau dengan perbandingan dari guru lain.
b. Menurut Bahri (2012:8), Penelitian Tindakan Kelas merupakan sebuah kegiatan yang dilaksanakan untuk mengamati kejadian-kejadian dalam kelas untuk  memperbaiki praktek dalam pembelajaran agar lebih berkualitas dalam proses sehingga hasil belajarpun menjadi lebih baik.
c. Menurut Suyadi,2012:18, PTK secara lebih sistematis dibagi menjadi tiga kata yaitu penelitian, tindakan, dan kelas. Penelitian yaitu kegiatan mengamati suatu objek tertentu dengan menggunakan prosedur tertentu untuk menemukan data dengan tujuan meningkatkan mutu. Kemudian tindakan yaitu perlakuan yang dilakukan dengan sengaja dan terencana dengan tujuan tertentu. Dan kelas adalah tempat di mana sekelompok peserta didik menerima pelajaran dari guru yang sama.
d.  Menurut Sanjaya,2010:25, Secara bahasa ada tiga istilah yang berkaitan dengan penelitian tindakan keleas (PTK), yakni penelitian, tindakan, dan kelas. Pertama, penelitian adalah suatu perlakuan yang menggunakan metologi untuk memecahkan suatu masalah. Kedua, tindakan dapat diartikan sebagai perlakuan yang dilakukan oleh guru untuk memperbaiki mutu. Ketiga kelas menunjukkan pada tempat berlangsungnya tindakan.
e. Menurut John Elliot, PTK adalah peristiwa sosial dengan tujuan untuk meningkatkan kualiatas tindakan di dalamnya. Di mana dalam proses tersebut mencakup kegiatan yang menimbulkan hubungan antara evaluasi diri dengan peningkatan profesional.
f.  Menurut Kemmis dan Mc. Taggart (Sanjaya,2010:25), PTK adalah gerakan diri sepenuhnya yang dilakukan oleh peserta didik untuk meningkatkan pemahaman.
g.Menurut Arikunto (Suyadi,2012:18), PTK adalah gabungan pengertian dari kata “penelitian, tindakan dan kelas”. Penelitian adalah kegiatan mengamati suatu objek, dengan menggunakan kaidah metodologi tertentu untuk mendapatkan data yang bermanfaat bagi peneliti dan dan orang lain demi kepentingan bersama. Selanjutnya tindakan adalah suatu perlakuan yang sengaja diterapkan kepada objek dengan tujuan tertentu yang dalam penerapannya dirangkai menjadi beberapa periode atau siklus. Dan  kelas adalah tempat di mana sekolompok siswa belajar bersama dari seorang guru yang sama dalam periode yang sama.

Senin, 05 Desember 2016

Model Pembelajaran dengan Pendekatan Bermain (skripsi dan tesis)


Pendekatan bermain adalah salah satu bentuk dari sebuah pembelajaran jasmani yang dapat diberikan di segala jenjang pendidikan. Hanya saja, porsi dan bentuk pendekatan bermain yang akan diberikan, harus disesuaikan dengan aspek yang ada dalam kurikulum. Selain itu harus dipertimbangkan juga faktor usia, perkembangan fisik, dan jenjang pendidikan yang sedang dijalani oleh mereka.
Model pembelajaran dengan pendekatan bermain erat kaitannya dengan perkembangan imajinasi perilaku yang sedang bermain, karena melalui daya imajinasi, maka permainan yang akan berlangsung akan jauh lebih meriah. Oleh karena itu sebelum melakukan kegiatan, maka guru pendidikan jasmani, sebaiknya memberikan penjelasan terlebih dahulu kepada siswanya majinasi tentang permainan yang akan dilakukannya.

Metode Pembelajaran Dengan Metode Bimbingan (Guidance)


Teknik atau metode bimbingan adalah metode yang paling umum dalam  latihan, di mana siswa dituntun dengan berbagai cara melalui pemolaan gerak. Dalam penggunaannya metode ini mempunyai beberapa  tujuan, dan yang paling utama adalah untuk mengurangi kesalahankesalahan dan memastikan bahwa pola yang tepat sudah dilakukan.
Penggunaan metode bimbingan terutama arnat penting dalam cabangcabang olahraga yang berbahaya seperti senam di mana bantuan yang diberikan akan memperkecil timbulnya bahaya, atau dalam renang di mana siswa pemula yang masih takut dapat ditolong dengan alat-alat yang dipergunakan. Demikian juga untuk olahraga-olahraga yang menggunakan peralatan yang mahal dan juga berisiko tinggi, seperti belajar mengendarai mobil atau menerbangkan pesawat.
1)      Jenis Belajar Terbimbing
Metode bimbingan terdiri dari berbagai macam jenis tergantung dari setting pembelajarannya. Beberapa bentuk bimbingan sedikit longgar, sehingga hanya memberikan kepada siswa sedikit bantuan untuk tampil. Contohnya adalah pada pembelajaran sepak bola atau menari yang pelatihnya hanya memberikan tanda-tanda verbal untuk menolong siswa-nya mengerti tentang tugas yang dilakukan. Bentuk lain dari bimbingan ada yang lebih ketat dan bersifat langsung kontak dengan siswanya, baik pelatih  atau guru yang melakukannya atau hanya berupa peralatan.
Setiap metode tentunya memberi siswa beberapa jenis bantuan sementara selama proses latihan berlangsung. Harapannya adalah bahwa tanpa bantuan tersebut, kelak si siswa akan mampu melakukannya lagi dengan lebih baik lagi. Beberapa penelitian mengenai metode ini telah memberikan gambaran yang jelas mengenai kapan, pada kondisi apa, dan  pada jenis keterampilan yang bagaimana metode ini paling baik di gunakan.
2)      Efektivitas Metode Latihan Terbimbing
Eksperimen klasik yang memberikan banyak informasi dan wawasan ke dalam proses-proses yang terlibat dalam latihan terbimbing telah dilaksanakan tiga dekade lalu oleh Annett (Schmidt, 1991). Dia mengharuskan  subyek penelitiannya untuk belajar menghasilkan sejumlah tertentu penekanan pada pengungkit tangan. Selama pergerakan satu grup subyek menerima tuntunan visual tambahan pada monitor yang menampilkan jumlah tekanan yang baru saja dilakukan dihubungkan dengan sasaran tekanan, sedangkan grup yang lain tidak. Selama latihan bimbingan itu memudahkan penampilan. Akan tetapi, pada test retensi dengan bimbingan yang dilepaskan, grup yang dibimbing ternyata tampil buruk, dengan beberapa subyek menekan begitu kuatnya pada alatnya sampai rusak. Dengan begitu siswa yang telah belajar tugas gerak yang dimaksud dengan alat itu tidak dapat tampil tanpanya.
Hal ini menampilkan prinsip penting dari latihan terbimbing. Bimbingan efektif untuk menampilkan sesuatu ketika bimbingan itu memang ada  terus selama latihan. Jika kehadirannya dihilangkan, maka penampilan yang bagus karena kehadirannya praktis hilang juga ketika bimbingan itu  dihilangkan. Dari kenyataan tersebut maka dapat disimpulkan bahwa metode latihan dengan menggunakan bimbingan kurang dapat dipertanggungjawabkan.
Namun demikian bukan berarti bahwa latihan terbimbing tidak bisa lagi digunakan dalam proses latihan gerak. Keuntungannya tetap ada jika metode bimbingan ini diterapkan pada dua kondisi di bawah ini:
a)          Latihan Dini.  Dalam latihan yang sangat dini, ketika siswa sedang mengembangkan gagasan tugas yang paling primitif, prosedur bimbingan dapat menjadi berguna. Prosedur itu akan dapat menolong menampilkan gambaran dasar dari suatu keterampilan, memberikan petunjuk kasar tentang apa yang harus dilakukan, dan memulai siswa menunjukkan cara yang tepat untuk membuat upaya pertamanya.  Untuk menghindarinya, maka prosedur ini harus segera diubah secepat mungkin, yaitu pada titik di mana si siswa dapat melakukan tugas itu secara independen.
b)         Tugas Berbahaya.  Kekecualian lain untuk menggunakan prosedur bimbingan adalah pada situasi yang berbahaya. Bimbingan fisik, seperti sabuk penopang yang sering digunakan oleh pesenam dalam mempelajari rakan baru, dapat mencegah terjadinya cedera. Jika alat yang diperlukan tidak tersedia, maka guru atau pelatih harus memberikan bimbingan fisik pada saat-saat kritis. Ketika siswa tadi menambah kemampuannya, maka tingkat bantuannya dapat secara bertahap dikurangi, dengan ketentuan ia masih siap jika sewaktu-waktu bantuannya diperlukan. Dalam hal ini, prosedur demikian mempunyai nilai manfaat lain, yaitu  di antaranya untuk mengurangi rasa takut atau keraguan dari si siswa. Kepercayaan siswa bahwa dirinya tidak akan cedera dapat menambah keefektifan dalam konsentrasi pada pola gerakan yang sedang dipelajari.
b.      Latihan Padat dan Terdistribusi
Dikaitkan dengan penggunaan waktu dalam proses latihan, maka metode latihan yang lain dapat ditentukan, yaitu latihan padat (massed practice) dan latihan terdistribusi (distributed practice). Latihan padat menunjukkan sedikitnya waktu istirahat di antara ulangan. Misalnya, jika tugas latihan mempunyai lama waktu pelaksanaan 30 detik, latihan padat akan menjadwalkan istirahat pada setiap ulangannya hanya sedikit sekali (misalnya 5 detik) atau tidak istirahat sama sekali. Sedangkan di pihak lain, penggunaan metode latihan terdistribusi akan memerlukan istirahat di antara ulangannya minimal selama waktu pelaksanaannya, misalnya 30  detik atau lebih lama.
Tidak ada garis pembatas yang jelas antara latihan padat dan distribusi ini. Patokannya bahwa latihan padat biasanya mengurangi waktu istirahat di antara latihan atau ulangan, sedangkan latihan ter-distribusi mempunyai istirahat lebih panjang.
Dinyatakan bahwa perbedaan nyata dari kedua latihan tersebut adalah keterlibatan rasa capai atau lelah pada salah satunya. Akibatnya, kelelahan itu menurunkan penampilan pada ulangan berikut dan mungkin malah mengganggu proses belajar yang biasanya terjadi pada tahap ini.
c.       Keseluruhan Vs Bagian
Beberapa keterampilan terdiri dari beberapa gerakan yang sangat kompleks. Dari kenyataan tersebut cukup jelas bahwa alangkah sulitnya bagi guru untuk menampilkan semua aspek keterampilan tersebut sekaligus kepada siswa sebab siswa pun akan merasa dijejali terlalu banyak informasi dan tugas dan kemungkinannya  tidak akan mampu mengingatnya sama sekali. Terhadap tugas yang demikian, tentunya guru atau pelatih harus mampu menyesuaikan prosedur dan pendekatan yang tepat.
Pendekatan yang sering digunakan manakala mepghadapi gejala tersebut, biasanya guru akan membagi tugas tersebut di atas ke dalam unitunit yang bermakna yang dapat dipisah-pisahkan  (metode bagian).  Tujuan dari prosedur demikian adalah untuk menyatukan unti-unit latihan ini ke dalam keterampilan keseluruhan pada penampilan berikutnya. Tentunya hal tersebut tidak semudah memperkirakannya sebab terdapat banyak hal yang membuat menggabungkan kembali unit-unit itu menjadi keterampilan  utuh cukup sulit dilakukan. Oleh karena itu, pertanyaan yang harus diajukan adalah bagaimana menciptakan sub-sub unit dari keterampilan tersebut dan bagaimana subsub tersebut harus dilatih untuk transfer yang maksimum terhadap keterampilan yang utuh.
Adalah hal yang mudah membagi-bagi suatu keterampilan ke dalam bagian-bagian. Kita bisa memisahkan teknik lompat jauh menjadi  sub-sub unit seperti awalan, tolakan, melayang di udara, dan mendarat. Bahkan setiap sub unit tadi dapat juga dibagi-bagi lagi. Tetapi pertanyaan yang nyata adalah apakah bagian-bagian tersebut, yang dilatih secara terpisah-pisah, akan efektif untuk mempelajari keterampilan utuh? Berapa banyak waktu, jika ada, yang harus dihabiskan pada latihan bagian, dan akankah waktu ini menjadi lebih efektif bila digunakan untuk melatih tugas yang utuh?
Jawaban untuk pertanyaan tersebut cukup jelas pada penglihatan awal. Sebab bagian yang dilatih secara terpisah itu nampak sama seperti bagian dalam tugas yang utuh, maka transfer dari tugas per bagian ke tugas keseluruhan akan nampak mudah. Pandangan ini bisa jadi benar dalam kasus tertentu, tetapi terdapat situasi-situasi di mana transfer itu jauh dari sempurna. Perbedaan-perbedaan dalam efektivitas latihan bagian ini tergantung pada beberapa hal.
1)      Keterampilan Serial.
Dalam banyak keterampilan serial, masalah yang dihadapi siswa adalah mengorganisir satu set kegiatan ke dalam urutan yang tepat. Melatih subtugas khusus biasanya efektif dalam mentransfer ke dalam rangkaian keseluruhan. Transfer bagian paling baik berlaku pada tugas-tugas serial yang panjang, di mana aksi (kesalahan) dari satu bagian tidak mempengaruhi aksi dari bagian berikutnya. Dengan demikian, jika bagian-bagian dari keterampilan itu tidak terlalu erat kaitannya satu sama lain, maka tidak ada masalah jika guru menggunakan metode ini. Siswa dalam hal ini akan memungkinkan untuk berkonsentrasi pada bagian yang paling susah dan mengabaikan yang paling mudah, sehingga waktu latihan lebih efisien.
Masalahnya, banyak juga suatu keterampilan dalam olahraga terdiri dari bagian-bagian yang kaitan antara satu bagian dengan bagian yang lain demikian eratnya;  sehingga kegagalan di satu bagian akan mempengaruhi keberhasilan bagian yang berikutnya. Jika demikian halnya, maka metode bagian tidak dapat digunakan pada keterampilan semacam ini.
2)      Keterampilan Diskrit.
Setiap keterampilan biasanya mengandung nuansa serial, yang mana bagian-bagian tertentu darinya berangkai dengan bagian-bagian lain. Seperti gerakan memukul dalam softball, yang berisi melangkah, memutar pinggul, dan mengayun lengan. Pada beberapa titik, bagian-bagian individual ini, ketika dilihat  secara terpisah, hilang maknanya sebagai bagian itu. Jika keterampilan demikian yang hendak dipelajari, maka metode keseluruhan akan cukup bermakna.
Beberapa eksperimen mengenai metode ini mengatakan bahwa penggunaan metode bagian untuk keterampilan diskrit secara terpisah tidak menghasilkan transfer yang baik, terutama jika keterampilan tersebut bersifat cepat dan balistik. Kenyataan ini menunjukkan bahwa gerakan yang  cepat biasanya berinteraksi secara kuat antara bagian-bagiannya.
3)      Prinsip Kekhususan.
Menurut konsep motor program, aksi yang cepat dikontrol secara openloop, dengan keputusan tentang struktur aksi tersebut telah diprogram terlebih  dahulu. Menampilkan hanya satu bagian dari aksi semacam ini, khususnya jika bagian itu mempunyai dinamika yang berbeda ketika  ditampilkan secara terpisah, memerlukan penggunaan program yang  berbeda, yaitu yang bertanggung jawab hanya untuk bagian itu. Jadi melatih program bagian ini hanya menyumbang pada peningkatan penampilan pada bagian itu secara terpisah, tetapi tidak akan menyumbang apa-apa terhadap penghasilan gerakan keseluruhan, yang didasarkan pada motor program yang berbeda.
4)      Bagian Progresif.
Beberapa latihan bagian dapat sangat menolong, terutama jika elemenelemen aksi itu banyak jumlahnya  dan memberikan kesulitan untuk siswa dalam merangkaikannya secara tepat. Metode latihan bagian yang lama bisa bermanfaat dalam mempelajari aksi yang demikian. Akan tetapi untuk meminimalkan masalah-masalah belajar yang tidak mudah ditransfer dari bagian ke keseluruhan, banyak guru menggunakan  latihan bagian progresif. Dalam metode ini bagian-bagian dari suatu keterampilan yang kompleks diberikan secara terpisah, tetapi bagian-bagian tadi diintegrasikan ke dalam bagian-bagian yang lebih besar, dan akhirnya menjadi keseluruhan, ketika keseluruhan bagian-bagian itu dikuasai.
Pada prinsipnya, metode progresif ini mengikuti jalur demikian. Pada tahap satu, latihan hanya melibatkan satu bagian dari suatu keterampilan. Pada tahap dua, bagian pertama tadi digabung dengan bagian kedua, sehingga menampilkan latihan pola gerak yang berbeda. Pada tahap tiga, bagian satu dan bagian dua tadi digabung lagi dengan bagian tiga, yang menunjukkan pola gerak yang semakin meningkat kompleksitasnya. Demikian seterusnya hingga seluruh bagian yang tersisa akhirnya  tergabung secara keseluruhan. Pada tahapan terakhir, tentunya seluruh bagian tadi sudah tergabungkan, sehingga latihan yang dimaksud sudah  menunjukkan keutuhannya.

Pembelajaran Servis Bawah Bola Voli dengan Metode Keseluruhan (skripsi dan tesis)


Upaya membelajarakan macam-macam teknik dasar permainan bola voli dapat diterapkan dengan metode keseluruhan.
a.       Metode Keseluruhan
Metode keseluruhan merupakan bentuk latihan suatu keterampilan yang pelaksanaannya dilakukan secara utuh dari keterampilan yang dipelajari. Berkaitan dengan metode keseluruhan Sugiyanto (1996: 67) menyatakan, “Metode keseluruhan adalah cara pendekatan dimana sejak awal pelajar diarahkan untuk mempraktekkan keseluruhan rangkaian gerakan yang dipelajari”. Menurut Andi Suhendro (1999: 3.56) bahwa, “Metode keseluruhan adalah metode yang menitik beratkan kepada keutuhan dari bahan pelajaran yang ingin disampaikan”.
Berdasarkan dua pendapat tersebut dapat disimpulkan, metode keseluruhan merupakan cara mengajar yang menitik beratkan pada keutuhan dari keterampilan yang dipelajari. Dalam metode keseluruhan, siswa dituntut melakukan gerakan keterampilan yang dipelajari secara keseluruhan tanpa memilah-milah bagianbagian dari keterampilan yang dipelajari. Metode keseluruhan pada umumnya diterapkan untuk mempelajari suatu keterampilan yang sederhana. Seperti dikemukakan Harsono (1988: 142) bahwa, “Apabila keterampilan olahraga yang diajarkan itu sifatnya sederhana dan mudah dimengerti maka keterampilan tersebut sebaiknya diajarkan secara keseluruhan, dan setiap teknik bagian hanya dilatih secara khusus apabila siswa atau subyek selalu membuat kesalahan pada teknik bagian tersebut”. Sedangkan Rusli Lutan (1988: 411) menyatakan, “Metode keseluruhan memberikan keuntungan maksimal jika yang dipelajari ialah gerakan yang sederhana”.
Metode keseluruhan pada dasarnya sangat cocokatau relevan untuk mempelajari keterampilan yang sederhana. Namun demikian, apabila pada bagian-bagian tertentu terdapat kompleksitas atau gerakan yang sulit, maka dapat diajarkan secara khusus apabila siswa seringkali melakukan kesalahan.
b.      Pelaksanaan Pembelajaran Servis Bawah Bola Voli dengan Metode Keseluruhan
Pelaksanaan pembelajaran servis bawah bola voli secara keseluruhan yaitu, pertama-tama dijelaskan teknik servis bawah baik dan benar, meliputi sikap permulaan, gerakan pelaksanaan dan gerak lanjut. Bagian-bagian gerakan teknik servis bawah dijelaskan secara terperinci dan didemonstrasikan. Pelaksanaan dari masing-masing teknik dasar servis bawah yaitu:
1)      Sikap permulaan yaitu: berdiri di daerah servis menghadap ke lapangan, bagi yang tidak kidal kaki kiri di depan dan bagi yang kidal sebaliknya. Bola dipegang pada tangan kiri, tangan kanan boleh menggenggam atau dengan telapak tangan terbuka, lutut agak ditekuk sedikit dan berat badan berada di tengah.
2)      Gerakan pelaksanaan yaitu: bola dilambungkan di depan pundak kanan, setinggi 10 sampai 20 cm dan pada saat yang bersamaan tangan kanan ditarik ke belakang, kemudian diayunkan ke arah depan atas dan mengenai bagian belakang bawah bola.
3)      Gerak lanjut yaitu: setelah memukul bola diikuti dengan memindahkan berat badan ke depan, dengan melangkahkan kaki kanan ke depan dan segera masuk ke lapangan untuk mengambil posisi dengan sikap siap normal, siap untuk menerima pengembalian atau serangan dari pihak lawan.
Dari penjelasan teknik servis bawah tersebut, apabila siswa telah jelas dan mengerti secara seluruhan, selanjutnya siswa mempraktekkan sesuai dengan contoh dari daerah servis. Dari pelaksanaan pembelajaran servis bawah bola voli tentunya akan terjadi kesalahan. Jika terjadi kesalahan, maka guru berkewajiban membetulkan kesalahan tersebut. Kesalahan yang sering dilakukan, harus diberikan penekanan secara khusus agar siswa betul-betul memahami dan tidak mengulang kesalahan tersebut. Setelah kesalahan tersebut dibenarkan, selanjutnya siswa melakukan gerakan servis bawah secara keseluruhan dengan tidak mengulangi kesalahan lagi.
c.       Kelebihan dan Kelemahan Pembelajaran Servis Bawah Bola Voli dengan Metode Keseluruhan
Metode keseluruhan merupakan cara latihan yang mengutamakan keutuhan dari keterampilan yang dipelajari. Siswa memperagakan gerakan servis bawah bola voli secara utuh dan dilakukan secara berulang-ulang. Berdasarkan pelaksanaan pembelajaran servis bawah bola voli dengan metode keseluruhan dapat diidentifikasi kelebihan dan kelemahannya. Kelebihan pembelajaran servis bawah bola voli dengan metode keseluruhan antara lain:
1)       Merangsang siswa untuk segera memiliki kemampuan servis bawah dengan pantulan yang kuat.
2)       Membiasakan siswa untuk melakukan servis dengan jarak yang sesungguhnya, karena sejak awal telah dirangsang untuk melakukan servis dengan jarak yang seseuai dengan peraturan. Hal ini akan menjadikan kemampuan siswa untuk berorientasi terhadap lapangan menjadi lebih baik.
3)       Membiasakan siswa untuk melakukan servis dengan kuat, sebab sejak awal telah dirangsang untuk melakukan servis dengan jarak yang relatif jauh, sehingga tidak akan mengalami kesulitan saat bermain bola voli.
4)       Bagi siswa yang sudah memiliki dasar penguasaan teknik servis bawah, pembelajaran ini sangat cocok, karena siswa tersebut tinggal melatih ketepatan mengarahkan bola.
Sedangkan kelemahan pembelajaran servis bawah bola voli dengan metode keseluruhan antara lain:
1)        Bagi siswa pemula khususnya, dalam melakukan pembelajaran ini pada awal pembelajaran tingkat kegagalannya akan sangat besar.
2)        Karena servis ini memerlukan tenaga yang cukup besar, maka dalam pembelajaran konsentrasinya hanya tertuju pada penggunaan tenaga, sedangkan penggunaan teknik servis yang baik dan benar sering terabaikan, sehingga penguasaan terhadap teknik servis bawah yang benar sulit tercapai

Servis Bola Voli (skripsi dan tesis)

a.    Fungsi Servis dalam Permainan Bola Voli
Teknik dasar servis dalam permainan bola voli terus berkembang. Pada awalnya servis merupakan penyajian bola pertama sebagai tanda dimulainya permainan. Seiring dengan perkembangan permainan bola voli dan penerapan taktik dan strategi permainan bola voli, pukulan servis memiliki fungsi ganda yaitu sebagai tanda dimulainya permainan dan sebagai serangan pertama bagi regu yang melakukan servis. Novia Lestari (2007: 176) menyatakan”Servis adalah kontak dengan bola yang memulai permainan untuk memulai setiap rally”. Menurut Nuril Ahmadi (2007: 20) bahwa, “Servis adalah pukulan bola yang dilakukan dari belakang garis akhir lapangan permainan melampaui net ke daerah lawan”. Sedangkan Amung Ma’mum dan Toto Subroto (2001: 61) menyatakan, “Servis adalah awal terjadinya suatu permainan bola voli. Akan tetapi dalam perkembangannya servis menjadi salah satu serangan pertama yang sangat penting”.
Berdasarkan tiga pendapat tersebut menunjukkan bahwa, servis dalam permainan bola voli merupakan tanda dimulainya permainan dan berfungsi sebagai serangan pertama untuk mendapatkan point bagi regu yang mendapat kesempatan servis. Dengan sistem penilaian rellypoint, maka servis mempunyai pengaruh besar terhadap jalannya seluruh permainan. Seperti Deiter Beutelstahl (2003: 9) bahwa, “Servis yang baik mempengaruhi seluruh jalannya pertandingan”. Hal ini artinya, angka atau point dapat dihasilkan melalui servis yang baik dan bahkan dapat menentukan menang atau kalahnya suatu tim. Tetapi kegagalan servis juga menguntungkan pihak lawan, yaitu bola berpindah dan lawan mendapatkan angka. Oleh karena itu, dalam melakukan servis hendaknya lebih berhati-hati agar bola dapat masuk ke daerah permainan lawan dan lawan sulit untuk menerimanya.
Barbarra L. Viera dan Bonnie Jill Ferguson (1996: 27) menyatakan, “Dalam suatu pertandingan sangat penting bagi anda untuk melakukan servis dengan konsisten yaitu paling tidak 90% dari servis anda dapat melewati net ke daerah lawan”. Oleh karena itu, dalam melakukan servis harus dibuat sesulit mungkin agar lawan sulit mengembalikan atau bahkan langsung mati. Menurut Soedarwo dkk. (2000: 38) cara mempersulit bola servis pada dasarnya berkaitan dengan, “(1) kecepatan, kurve dan belak-belok jalannya bola dan, (2) penempatan bola diarahkan pada titik-titik kelemahan lawan”.
Kunci keberhasilan pukulan servis yaitu bola dapat menyeberang melewati net, laju bola sulit diantisipasi lawan dan diarahkan pada titik kelamahan lawan. Kemampuan seorang pemain melakukan pukulan servis yang sulit atau mengarahkan pada titik kelemahan lawan, maka akan menyulitkan lawan untuk menerimanya atau bahkan lawan langsung mati.
b.    Servis Bawah
Berdasarkan cara pelaksanaannya, servis bola voli dibedakan menjadi dua yaitu servis tangan bawah (underhand service) dan servis atas (overhead service). Servis bawah merupakan bentuk servis yang sederhana dan tujuan servis bawah biasanya hanya sekedar menyeberangkan bola ke daerah permainan lawan. Seperti dikemukakan Amung Ma’mum dan Toto Subroto (2001: 61) bahwa, “Servis dari bawah merupakan bentuk servis yang paling mudah untuk dilakukan. Tujuan servis bawah adalah melambungkan bola menuju lapangan lawan melintasi jaring”.
Pendapat tersebut menunjukkan bahwa, servis bawah kurang memiliki efektivitas untuk melakukan serangan, jika dibandingkan dengan servis atas. Hal ini karena, servis bawah tidak mungkin dapat mempercepat laju bola, sehingga lawan mudah untuk menerimanya. Seperti dikemukakan Agus Mukholid (2004: 35) bahwa, “kelemahan servis tangan bawah adalah mudah diterima dan lintasannya melambung tinggi sehingga mudah diantisipasi lawan”.
Berdasarkan macamnya servis bawah dibedakan menjadi beberapa macam. Amung Ma’mum dan Toto Subroto (2001: 62) mengelompokkan jenis servis bawah yaitu, “Servis pangkal lengan, servis arah luar, servis arah dalam, servis menyamping, servis bola melayang dan servis tinju”. Berdasarkan macam-macam jenis servis bawah tersebut, maka membelajarkan servis bawah bagi siswa pemula adalah langkah yang harus dilakukan untuk menuju pada permainan yang menuntut keterampilan servis yang baik agar nantinya siswa mampu melakukan servis sebagai serangan. Oleh karena itu, dalam melakukan servis hendaknya berhati-hati. Hal ini karena sistem penilaian permainan bola voli yaitu relly point, maka kegagalan servis merupakan keuntungan bagi pihak lawan. Oleh karena itu, bagi tim yang mendapat kesempatan servis harus mampu dimanfaatkan seoptimal mungkin.
Hal terpenting dan harus diperhatikan dalam melakukan servis bola voli yaitu harus dilakukan seefektif dan sesulit mungkin agar lawan tidak dapat menerimanya untuk selanjutnya menyusun serangan. Seperti dikemukakan Dieter Beutelstahl (2003: 70) bahwa servis dapat bertujuan untuk “(1) langsung meraih angka kemenangan, (2) menghalang-halangi formasi penyerangan pihak lawan”.
Ketepatan dan keakuratan penempatan bola dalam melakukan servis merupakan hal penting untuk memperoleh hasil servis yang optimal. Apabila pemain mampu mengarahkan servisnya ke tempat yang tidak dijaga atau pemain yang paling lemah, maka servis akan berhasil dengan baik. Hal ini karena, lawan tidak mempunyai kesempatan menyusun serangan karena servis yang tidak sempurna atau bahkan lawan langsung mati.
c.    Teknik Servis Bawah Bola Voli
Keberhasilan servis bawah tidak terlepas dari penguasaan teknik yang baik dan benar. Teknik yang benar akan menghasilkan pukulan servis yang baik dan efektif. Sedangkan kesalahan teknik servis adalah sebuah kegagalan, sehingga akan menguntungkan pihak lawan. Berkaitan dengan teknik servis bawah, M. Yunus (1992: 68) mengelompokkan teknik servis bawah terdiri tiga bagian yaitu, “(1) sikap permulaan, (2) gerakan pelaksanaan dan (3) gerak lanjut”.
Pendapat tersebut menunjukkan bahwa, teknik servis bawah bola voli terdiri tiga bagian yaitu sikap permulaan, gerakan pelaksanaan dan gerak lanjut. Dari ketiga teknik tersebut harus dirangkaikan dalam satu gerakan yang utuh dan harmonis. Untuk lebih jelasnya berikut ini diuraikan teknik pelaksanaan servis bawah sebagai berikut:
1)          Sikap Permulaan
Sikap permulaan servis bawah yaitu: berdiri di daerah servis menghadap ke lapangan, bagi yang tidak kidal kaki kiri di depan dan bagi yang kidal sebaliknya. Bola dipegang pada tangan kiri, tangan kanan boleh menggenggam atau dengan telapak tangan terbuka, lutut agak ditekuk sedikit dan berat badan berada di tengah.
2)          Gerakan Pelaksanaan
Gerakan pelaksanaan servis bawah yaitu: bola dilambungkan di depan pundak kanan, setinggi 10 sampai 20 cm dan pada saat yang bersamaan tangan kanan ditarik ke belakang, kemudian diayunkan ke arah depan atas dan mengenai bagian belakang bawah bola.
3)          Gerak Lanjut (Followthrough)
Gerak lanjut dari pukulan servis bawah yaitu: setelah memukul bola diikuti dengan memindahkan berat badan ke depan, dengan melangkahkan kaki kanan ke depan dan segera masuk ke lapangan untuk mengambil posisi dengan sikap siap normal, siap untuk menerima pengembalian atau serangan dari pihak lawan. Untuk lebih jelasnya berikut ini disajikan ilustrasi rangkaian pelaksanaan servis bawah sebagai berikut:
Gambar 1. Rangkaian Gerakan Servis Bawah Bola Voli
(Amung Ma’mum dan Toto Subroto, 2001: 62)
d.   Kesalahan yang Sering Terjadi dalam Servis Bawah
Servis bawah merupakan jenis servis yang paling mudah jika dibandingkan dengan servis atas. Namun demikian tidak menutup kemungkinan bagi siswa pemula seringkali melakukan kesalahan. Kesalahan dalam teknik gerakan servis bawah mengakibatkan servis bawah menjadi gagal. Barbara L.V. & Bonnie J.F. (1996:34) mengidentifikasi kesalahan teknik gerakan servis bawah dan cara memperbaikinya sebagai berikut:

Kesalahan
Perbaikan
1.
Bola bergerak ke atas bukan ke
1.
Pegang bola setinggi pinggang atau

depan, dan tidak dapat

lebih rendah. Pukul bola tepat pada

menyeberang net

bagian tengah belakang dan
2.
Bola tidak cukup bertenaga untuk

ayunkan lengan ke depan ke arah

menyeberangi net.

net. Pindahkan berat badananda ke



kaki depan.
3.
Berat badan anda bertumpu di kaki
2.
Jangan mengayunkan tangan yang

belakang, bola melambung terlalu

memegang bola. Pukulan harus

tinggi

dilakukan dengan tumit telapak



tangan anda yang terbuka.


3.
Melangkahlah ke depan dengan



kaki depan anda pada saat anda



memukul bola. Kepala dan bahu



anda harus berada di depan sejajar



dengan lutut.


Kesalahan-kesalahan dan cara memperbaiki gerakan servis bawah tersebut harus dipahami oleh seorang guru. Kesalahan yang sering dilakukan siswa harus segera dibetulkan. Kesalahan yang dibiarkan akan mengakibatkan pola gerakan menjadi salah, sehingga gerakan tidak efektif dan tidak sesuai seperti yang diharapkan.