Tampilkan postingan dengan label PTK. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PTK. Tampilkan semua postingan

Jumat, 12 Januari 2018

KRITERIA DALAM PENELITIAN TINDAKAN KELAS (skripsi dan tesis)



A.      Abstrak
Abstrak harus menunjukkan tiga unsur:
1.      Latar belakang dan tujuan penelitian
2.      Prosedur atau metode penelitian
3.      Hasil atau temuan penelitian
B.      Pendahuluan
Pendahuluan harus menunjukkan unsure-unsur sebagai berikut:
1.      Deskripsi masalah, data awal, lokasi penelitian, identifikasi akar masalah, dan pentingnya pemecahan masalah dengan segera
2.      Rumusan masalah
3.      Tujuan penelitian
4.      Manfaat penelitian
C.      Kajian Teori dan Tinjauan Pustaka
1.      Adanya deskripsi teori yang relevan serta mendukung tindakan yang dikenakan kepada siswa
2.      Adanya kerangka pikir pemecahan masalah atau ide orisinil peneliti untuk melakukan tindakan guna mengatasi masalah yang dihadapi dan memungkinkan dapat meningkatkan kualitas pembelajaran
3.      Hipotesis tindakan (jika diperlukan)
D.      Pelaksanaan Penelitian
1.      Deskripsi tahapan dan siklus demi siklus sepanjang penelitian
2.      Penggunaan instrument, usaha validasi data, hipotesis tindakan, dan cara refleksi
3.      Tindakan yang dilakukan benar-benar nyata, riil, logis dan fleksibel

E.       Hasil Penelitian dan Pembahasan
Hasil penelitian dan pembahasan disajikan dengan mendeskripsikan secara lengkap dan sistematis setiap tahapan dari siklus ke siklus.
Siklus I
1.      Perencanaan. Dipaparkan mengenai tindakan yang dikenakan yang berbeda dari pembelajaran biasanya
2.      Pelaksanaan. Diuraikan cara dan langkah-langkah melakukan tindakan
3.      Pengamatan. Diambil dari dokumen-dokumen pengamatan atau data autentik
4.      Refleksi. Berisi hasil introspeksi diri atau renungan sejauh mana proses KBM dapat ditingkatkan
Siklus II (idem), tetapi perlu ditambahkan hal-hal yang mnedasar seperti berikut ini:
1.      Disajikan proses dan hasil perubahan yang dicapai siswa
2.      Tabel atau grafik hasil analisis data kuantitatif
3.      Pembahasan
4.      Terdapat ulasan yang dicapai dari siklus ke siklus
F.       Kesimpulan dan Rekomendasi
1.      Hasil penelitian, telah sesuai atau belum dengan tujuan yang dicanangkan
2.      Terdapat saran bagi penelitian selanjutnya agar lebih baik
3.      Ada usulan dalam hal pemanfaatan hasil penelitian atau penggunaan temuan dalam penelitian
G.     Daftar Pustaka dan Lampiran
1.      Berisi sumber-sumber rujukan dengan penulisan daftar pustaka sesuai standar ilmiah
2.      Kelengkapan lampiran

Asas Dalam Penelitian Tindakan Kelas (skripsi dan tesis)




a.    Asas kritik dialektis
Metode posivitis menyarankan agar kita mengamati gejala secara menyeluruh dan membatasinya secara pasti agar dapat mengidentifikasi sebab dan akibatnya yang khusus. Pendekatan dialektis menuntut peneliti untuk melakukan kritik terhadap gejala yang ditelitinya (winter, 1989).
b.    Asas sumber daya kolaboratif
Untuk memahami asas ini pernyataan-pernyataan berikut perlu direnungkan (winter, 1989): apa peran saya sebagai peneliti? Hubungan macam apa yang harus saya, dengan murid/bawahan saya , dengan teman sejawat yang tertarik, dan diatas segalanya, dengan mereka yang akan menjadi sumber data? Khususnya, bagaimana saya berusaha agar “objektif”? kolaborasi yang dimaksud disini adalah bahwa sudut pandang setiap orang akan dianggap memberikan andil pada pemahaman ; tidak ada sudut pandang seseorang yang akan dipakai sebagai pemahaman tuntas dan mampu dibandingkan dengan sudut-sudut pandang lainnya. Untuk menjamin adanya kolaborasi peneliti tindakan hendaknya memulai pekerjaannya dengan mengumpulkan sejumlah sudut pandang, dan sederet sudut pandang inilah yang memberikan struktur dan makna awal pada situasi yang diteliti. Namun perlu diingt bahwa bekerja secara kolaboratif tidak berarti memadukan semua sudut pandang ini untuk mencapai kesepakatan melalui evaluasi. Sebaliknya, ragam perbedaan sudut pndang itulah menjadikan sumber daya yang kaya, dan dengan menggunakan sumber daya inilah analisis peneliti dapat mulai bergeser keluar dari titik awal pribadi yang tak terhindarkan menuju gagasan-gagasan yang secara antar pribadi telah dinegosiasikan.
c.     Asas resiko
Asas resiko berarti bahwa pemrekarsa penelitian harus berani mengambil resiko melalui proses penelitiannya. Salah satu resikonya adalah melesetnya hipotesis. Jadi melalui keterlibatannya dalam proses penelitian, peneliti mungkin berubah pandangan karena dapat melihat sendiri pertentangan dan kemungkinan untuk berubah dalam pandangannya.
d.    Asas struktur majemuk
Struktur majemuk ini berhubungan dengan gagasan bahwa gejala yang diteliti harus mencakup semua unsure pokok agar menyeluruh.. misalnya bila situasi pengajaran yang diteliti, situasinya harus mencakup (paling tidak) guru, siswa, tujuan pendidikan, interaksi pembelajaran, dan keluaran.
Struktur majemuk ini memungkinkan pelapor untuk memenuhi kebutuhan berbagai kelompok pembaca
e.    Asas teori, praktik, dan transformasi
Teori dan praktik bukanlah dua dunia yang berbeda, melainkan dua tahap yang berbeda yang saling bergantung dan mendukung proses perubahan. Jadi pertama-tama, peteori-peneliti terlibat dalam serentetan kegiatan praktis, mengadakan kontak, mengatur pertemuan, mengumpulkan dan memilah-milah materi dengan cara yang meyakinkan orang lain tentang kegunaannya. Sebaliknya pelaku praktis melakukan kegiatan mereka dengan banyak dibantu oleh pemahaman teoritis yang mencakup pengetahuan professional bidang spesialisasinya dan konsepsi akal sehat, kategori dan aturan engenai apa yang normal dan apa yang membentuk rintangan kemungkinan yang dapat dilihat sebelumnya. Jadi teori dan praktik bukan merupakan dua dunia yang berbeda yang bertentangan satu sama lain yang melintasi jurang yang tak terjembatani: teori mengandung unsure-unsur praktik begitu juga sebaliknya. Berdasarkan argument tersebut dapat dikatakan bahwa teori dan praktik saling membutuhkan, dan oleh karena itu mencakup tahap-tahap yang saling tak terhindarkan dari proses perubahan yang menyatu, yang mengajukan masalah terkuat untuk penelitian tindakan praktisi sebagai kegiatan yang mewakili bentuk penyelidika social yang kuat.[6]

Manfaat  Penelitian Tindakan Kelas (skripsi dan tesis)

Manfaat PTK dapat dilihat dari dua aspek yakni

  1. Aspek Akademis, manfaatnya adalah untuk membantu guru mengahasilkan pengetahuan yang shahih dan relevan bagi kelas mereka untuk memperbaiki mutu pembelajaran dalam jangka pendek.
  2. Manfaat Praktis dari pelaksanaan PTK antara lain:
  3. pelaksanaan inovasi pembelajaran dari bawah. Peningkatan mutu dan perbaikan proses pembelajaran yang dilakukan guru secara rutin merupakan wahana pelaksanaan inovasi pembelajaran. Oleh karena itu guru perlu mencoba untuk mengubah, mengembangkan, dan meningkatkan pendekatan, metode,maupun gaya pembelajaran sehingga dapat melahirkan suatu model pembelajaran yang sesuai dengan kondisi dan karakteristik kelas.
  4. pengembangan kurikulum di tingkat sekolah, artinya dengan guru melakukan PTK maka guru telah melakukan implementasi kurikulum dalam tataran praktis, yakni bagaimana kurikulum itu dikembangkan dan disesuaikan dnegan situasi dan kondisi, sehingga kurikulum dapat berjalan secara efektif melalui proses pembelajran yang aktif,inovatif,kreatif,efektif dan menyenangkan.

Tujuan Penelitian Tindakan Kelas Menurut Suhadjono (2007:61) (skripsi dan tesis)

a.Meningkatkan mutu isi, masukan, proses, serta hasil pendidikan dan pembelajaran disekolah
b.Membantu guru dan tenaga kekependidikan lainnya mengatasai masalah pembelajaran dan pendidikan di dalam kelas
c.Meningkatkan sikap professional pendidik dan tenaga kependidika
d.Menumbuh-kembangkan budaya akademik dilingkungan sekolah sehingga tercipta sikap proaktif di dalam melakukan perbaikan mutu pendidikan dan pembelajaran secara berkelanjutan (sustainable).

Tujuan Penelitian Tindakan Kelas Menurut Kunandar (2008) (skripsi dan tesis)


a. Untuk memecahkan permasalahan nyata yang terjadi di dalam kelas yang dialami langsung dalam interaksi antara guru dan siswa yang sedang belajar, meningkatkan profesionalisme guru, dan menumbuhkan budaya akademik dikalangan para guru.
b. Peningkatan kualitas praktik pembelajaran di kelas secara terus menerus mengingat masyarakat berkembang secara cepat.
c. Peningkatan relevansi pendidikan, hal ini dicapai melalui peningkatan proses pembelajaran.
d. Sebagai alat training in-service,yang memperlengkapi guru dengan skill dan metode baru, mempertajam kekuatan analisisnya dan mempertinggi kesadaran dirinya.
e. Sebagai alat untuk memasukkan pendekatan tambahan atau inovatif terhadap system pembelajaran yang berkelanjutanyang biasanya menghambat inovasi dan perubahan.
f.Peningkatan hasil mutu pendidikan melalui perbaikan praktik pembeljaran di kelas dengan mengembangkan berbagai jenis ketrampilan dan menningktkan motivasi belajar siswa.
g.Meningkatkan sikap profesional pendidik dan tenaga kependidikan.
h.Menumbuh kembangkan budaya akademik di lingkungan sekolah, sehingga tercipta proaktif dalam melakukan perbaikan mutu pendidikan dan pembelajaran secara berkelanjutan.
i. Peningkatan efisiensi pengelolaan pendidikan, peningkatan atau perbaikan proses pembelajran di samping untuk meningkatkan relevansi dan mutu hasil pendidikan juga situnjukkan untuk meningkatkan efisiensi peemanfaatan sumber-sumber daya yang terintegrasi di dalamnya.















Alasan diperlukan Penelitian Tindakan Kelas (skripsi dan tesis)



1.       PTK sangat kondusif untuk membuat guru menjadi peka tanggap terhadap dinamika pembelajaran di kelasnya. Dia menjadi reflektif dan kritis terhadap lakukan.apa yang dia dan muridnya
2.       PTK dapat meningkatkan kinerja guru sehingga menjadi profesional. Guru tidak lagi sebagai seorang praktis, yang sudah merasa puas terhadap apa yang dikerjakan selama bertahun-tahun tanpa ada upaya perbaikan dan inovasi, namun juga sebagai peneniliti di bidangnya.
3.       Dengan melaksanakan tahapan-tahapan dalam PTK, guru mampu memperbaiki proses pembelajaran melalui suatu kajian yang dalam terhadap apa yang terhadap apa yang terjadi di kelasnya. Tindakan yang dilakukan guru semata-mata didasarkan pada masalah aktual dan faktual yang berkembang di kelasnya.
4.       Pelaksanaan PTK tidak menggangu tugas pokok seorang guru karena dia tidak perlu meninggalkan kelasnya. PTK merupakan suatu kegiatan penelitian yang terintegrasi dengan pelaksanaan proses pembelajaran.
5.       Dengan melaksanakan PTK guru menjadi kreatif karena selalu dituntut untuk melakukan upaya-upaya inovasi sebagai implementasi dan adaptasi berbagai teori dan teknik pembelajaran serta bahan ajar yang dipakainya.
6.       Penerapan PTK dalam pendidikan dan pembelajaran memiliki tujuan untuk memperbaiki dan atau meningkatkan kualitas praktek pembelajaran secara berkesinambungan sehingga meningkatan mutu hasil instruksional; mengembangkan keterampilan guru; meningkatkan relevansi; meningkatkan efisiensi pengelolaan instruksional serta menumbuhkan budaya meneliti pada komunitas guru.

Jenis Penelitian Tindakan Kelas (skripsi dan tesis)



1. PTK Diagnostik
    PTK diagnosis adalah penelitian yang dirancang untuk menuntun penelitian ke arah suatu tindakan. Dalam hal ini, peneliti mendiagnosis dan memasuki situasi yang terdapat di dalam latar penelitian.

2. PTK Partisipan
    PTK Partisipan adalah penelitian yang terlibat langsung dalam proses penelitian sejak awal sampai dengan pembuatan laporan.

3. PTK Empiris
    PTK Empiris adalah penelitian yang berupaya melaksanakan suatu tindakan, kemudian mebukukkannya.

4. PTK Eksperimental
    PTK Eksperimental adalah penelitian yang diselenggarakan sebagai upaya menerapkan berbagai teknik dan strategi secara efektif dan efisien dalam kegiatan belajar-mengajar.

Prinsip Pembuatan Penelitian Tindakan Kelas (skripsi dan tesis)

  1. Masalah yang diangkat berasal dari pengalaman guru selama proses pembelajaran di kelas.

  1. Masalah yang diujicoba harus dilaksanakan secara langsung.

  1. Penelitian berfokus pada data pengamatan dan data perilaku siswa.

  1. Penelitian harus bertujuan untuk meningkatkan kualitas pelaksanaan pembelajaran di kelas.

  1. Penelitian menyangkut hal-hal yang bersifat dinamis, adanya perubahan.

  1. Tindakan yang dipilih peneliti harus spesifik, sederhana dan mudah dilakukan.

Ciri dari Penelitian Tindakan Kelas (skripsi dan tesis)

  1. Merupakan kegiatan nyata untuk meningkatkan kualitas proses belajar-mengajar.

  1. Merupakan tindakan oleh guru kepada siswa.

  1. Tindakan harus berbeda dari kegiatan biasanya.

  1. Terjadi dalam siklus berkesinambungan, minimum dua siklus.

  1. Ada pedoman yang jelas secara tertulis bagi siswa untuk dapat mengikuti tahap demi tahap.

  1. Ada untuk kerja siswa sesuai pedoman tertulis dari guru.

  1. Ada penelusuran terhadapa proses dengan berdasar pedoman pengamatan.

  1. Ada evaluasi terhadap hasil penelitian dengan instrumen yang relevan.

  1. Keberhasilan tindakan dilakukan dalam bentuk refleksi dan melibatkan siswa yang di kenai tindakan.
  2. Hasil refleksi harus terlihat dalam perencanaan siklus berikutnya.

Karakteristik Penelitian Tindakan Kelas (skripsi dan tesis)

  1. PTK hanya dilakukan oleh guru yang memahami bahwa proses pembelajaran perlu diperbaiki dan ia terpanggil jiwanya untuk memberikan tindakan-tindakan tertentu untuk membenahi masalah dalam proses pembelajaran dengan cara melakukan kolaborasi. Menurut Usman (dalam Daryanto,2011:2) guru dengan kompetensi tinggi merupakan seorang yang memiliki kemampuan dan keahlian serta keterampilan dalam bidangnya. Sehingga Ia dapat melakukan fungsi dan tugasnya sebagai pengajar dan pendidik dengan maksimal.
  2. Refleksi diri, refleksi merupakan salah satu ciri khas PTK yang paling esensial. Dan ini sekaligus sebagai pembeda PTK dengan penelitian lainnya yang menggunakan responden dalam mengumpulkan data, sementara dalam PTK pengumpulan data dilakukan dengan refleksi diri. (Tahir,2012:80)
3.Penelitian tindakan kelas dilaksanakan di dalam “kelas” sehingga interaksi antara siswa dengan guru dapat terfokuskan secara maksimal. “Kelas” yang dimaksud di sini bukan hanya ruang yang berupa gedung, melainkan “tempat” berlangsungnya proses pembelajaran antara guru dan murid. (Suyadi,2012:6)
  1. PTK bertujuan untuk memperbaiki proses pembelajaran secara terus menerus. PTK dilaksakan secara berkesinambungan di mana setiap siklus mencerminkan peningkatan atau perbaikan. Siklus sebelumnya merupakan patokan untuk siklus selanjutnya. Sehingga diperoleh model pembelajaran yang paling baik. (Daryanto,2011:6)
5.PTK merupakan salah satu indikator dalam peningkatan profesionalisme guru, karena PTK memberi motivasi kepada guru untuk berfikir Kritis dan sistematis, membiasakan guru untuk menulis, dan membuat catatan yang dapat. Di mana semua itu dapat menunjang kemampuan guru dalam pembelajaran. (Daryanto,2011:6)
6.PTK bersifat fleksibel sehingga mudah diadaptasikan dengan keadaan kelas. Dengan demikian proses pembelajaran tidak monoton oleh satu model saja.(Tahir,2012:81)
7.PTK menggunakaan metode kontekstuall. Artinya variable- variable yang akan dipahami selalu berkaitan dengan kondisi kelas itu sendiri. Sehingga data yang diperoleh hanya berlaku untuk kelas itu saja dan tidak dapat digeneralisasikan dengan kelas lain. (Tahir,2012:81)
8.PTK dalam pelaksanaannya terbikai dalam beberapa pembagian waktu atau siklus. (Sukardi,2011:212)
9.PTK tidak diatur secara khusus untuk memenuhi kepentingan penelitian semata. melainkan harus disesuaikan dengan program pembelajaran yang sedang berjalan di kelas tersebut. (Sanjaya,2010:34)

Sabtu, 14 Oktober 2017

MANFAAT PENELITIAN TINDAKAN KELAS (skripsi dan tesis)

sejumlah manfaat PTK antara lain sebagai berikut.
  1. Menghasilkan laporan-laporan PTK yang dapat dijadikan bahan panduan bagi para pendidik (guru) untuk meningkatkan kulitas pembelajaran. Selain itu hasil-hasil PTK yang dilaporkan dapat dijadikan sebagai bahan artikel ilmiah atau makalah untuk berbagai kepentingan antara lain disajikan dalam forum ilmiah dan dimuat di jurnal ilmiah.
  2. Menumbuhkembangkan kebiasaan, budaya, dan atau tradisi meneliti dan menulis artikel ilmiah di kalangan pendidik. Hal ini ikut mendukung professionalisme dan karir pendidik.
  3. Mewujudkan kerja sama, kaloborasi, dan atau sinergi antarpendidik dalam satu sekolah atau beberapa sekolah untuk bersama-sama memecahkan masalah dalam pembelajaran dan meningkatkan mutu pembelajaran.
  4. Meningkatkan kemampuan pendidik dalam upaya menjabarkan kurikulum atau program pembelajaran sesuai dengan tuntutan dan konteks lokal, sekolah, dan kelas. Hal ini turut memperkuat relevansi pembelajaran bagi kebutuhan peserta didik.
  5. Memupuk dan meningkatkan keterlibatan, kegairahan, ketertarikan, kenyamanan, dan kesenangan siswa dalam mengikuti proses pembelajaran di kelas. Di samping itu, hasil belajar siswa pun dapat meningkat.
  6. Mendorong terwujudnya proses pembelajaran yang menarik, menantang, nyaman, menyenangkan, serta melibatkan siswa karena strategi, metode, teknik, dan atau media yang digunakan dalam pembelajaran demikian bervariasi dan dipilih secara sungguh-sungguh.

OUTPUT DARI PENELITIAN TINDAKAN KELAS (skripsi dan tesis)


Output atau hasil yang diharapkan melaltu PTK adalah peningkatan atau
1.       perbaikan kualitas proses dan hasil pembelajaran yang meliputi hal-hal sebagai berikut.
2.       Peningkatan atau perbaikan kinerja siswa di sekolah.
3.       Peningkatan atau perbaikan mutu proses pembelajaran di kelas.
4.       Peningkatan atau perbaikan kualitas penggunaan media, alat bantu belajar, dan sumber belajar lainya.
5.       Peningkatan atau perbaikan kualitas prosedur dan alat evaluasi yang digunakan untuk mengukur proses dan hasil belajar siswa.
6.       Peningkatan atau perbaikan masalah-masalah pendidikan anak di sekolah.
7.       Peningkatan dan perbaikan kualitas dalam penerapan kurikulum dan pengembangan kompetensi siswa di sekolah.


TUJUAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS (skripsi dan tesis)

tujuan PTK antara lain:
  1. Meningkatkan mutu isi, masukan, proses, dan hasil pendidikan dan pembelajaran di sekolah.
  2. Membantu guru dan tenaga kependidikan lainnya dalam mengatasi masalah pembelajaran dan pendidikan di dalam dan luar kelas
  3. Meningkatkan sikap profesional pendidik dan tenaga kependidikan.
  4. Menumbuh-kembangkan budaya akademik di lingkungan sekolah sehingga tercipta sikap proaktif di dalam melakukan perbaikan mutu pendidikan/pembelajaran secara berkelanjutan.

PERMASALAHAN DALAM LINGKUP PENELITIAN TINDAKAN KELAS (skripsi dan tesis)

Permasalahan tersebut di antaranya adalah sebagai berikut.
  1. Masalah belajar siswa di sekolah, seperti misalnya permasalahan pem- belajaran di kelas, kesalahan-kesalahan dalam pembelajaran, miskonsepsi, misstrategi, dan lain sebagainya.
  2. Pengembangan profesionalisme guru dalam rangka peningkatan mutu perencanaan, pelaksanaan serta evaluasi program dan hasil
  3. Pengelolaan dan pengendalian, misalnya pengenalan teknik modifikasi perilaku, teknik memotivasi, dan teknik pengembangan potensi diri.
  4. Desain dan strategi pembelajaran di kelas, misalnya masalah pengelolaan dan prosedur pembelajaran, implementasi dan inovasi penggunaan metode pembelajaran (misalnya penggantian metode mengajar tradisional dengan metode mengajar baru), interaksi di dalam kelas (misalnya penggunaan stretegi pengajaran yang didasarkan pada pendekatan tertentu).Penanaman dan pengembangan sikap serta nilai-nilai, misalnya pengembangan pola berpikir ilmiah dalam diri siswa.
  5. Alat bantu, media dan sumber belajar, misalnya penggunaan media perpustakaan, dan sumber belajar di dalam/luar kelas.
  6. Sistem assesment atau evaluasi proses dan hasil pembelajaran, seperti misalnya masalah evaluasi awal dan hasil pembelajaran, pengembangan instrumen penilaian berbasis kompetensi, atau penggunaan alat, metode evaluasi tertentu
  7. Masalah kurikulum, misalnya implementasi KBK, urutan penyajian meteri pokok, interaksi antara guru dengan siswa, interaksi antara siswa dengan materi pelajaran, atau interaksi antara siswa dengan lingkungan belajar.

KOMPONEN PENELITIAN TINDAKAN KELAS (skripsi dan tesis)

komponen yang terdapat dalam sebuah kelas yang dapat dijadikan sasasaran PTK adalah sebagai berikut.
  1. Siswa, dapat dicermati obyeknya ketika siswa sedang mengikuti proses pembelajaran. Contoh permasalahan tentang siswa yang dapat menjadi sasaran PTK antara lain perilaku disiplin siswa, motivasi atau semangat belajar siswa, keterampilan berpikir kritis, kemampuan memecahkan masalah dan lain-lain.
  2. Guru, dapat dicermati ketika yang bersangkutan sedang mengajar atau membimbing siswa. Contoh permasalahan tentang guru yang dapat menjadi sasaran PTK antara lain penggunaan metode atau strategi pembelajaran, penggunaan pendekatan pembelajaran, dan sebagainya.
  3. Materi pelajaran, dapat dicermati ketika guru sedang mengajar atau menyajikan materi pelajaran yang ditugaskan pada siswa. Contoh permasalahan tentang materi yang dapat menjadi sasaran PTK misalnya urutan dalam penyajian materi, pengorganisasian materi, integrasi materi, dan lain sebagainya.
  4. Peralatan atau sarana pendidikan, dapat dicermati ketika guru sedang mengajar dangan menggunakan peralatan atau sarana pendidikan tertentu. Contoh permasalahan tentang peralatan atau sarana pendidikan yang dapat menjadi sasaran PTK antara lain pemanfaatan laboratorium, penggunaan media pembelajaran, dan penggunaan sumber belajar.
  5. Hasil pembelajaran yang ditinjau dari tiga ranah (kognitif, afektif, psikomotorik), merupakan produk yang harus ditingkatkan melalui PTK. Hasil pembelajaran akan terkait dengan tindakan yang dilakukan serta unsur lain dalam proses pembelajaran seperti metode, media, guru, atau perilaku belajar siswa itu sendiri.
  6. Lingkungan, baik lingkungan siswa di kelas, sekolah, maupun yang lingkungan siswa di rumah. Dalam PTK, bentuk perlakuan atau tindakan yang dilakukan adalah mengubah kondisi lingkungan menjadi lebih kondusif misalnya melalui penataan ruang kelas, penataan lingkungan sekolah, dan tindakan lainnya.
  7. Pengelolaan, merupakan kegiatan dapat diatur/direkayasa dengan bentuk tindakan. Contoh permasalahan tentang pengelolaan yang dapat menjadi sasaran PTK antara lain pengelompokan siswa, pengaturan jadwal pelajaran, pengaturan tempat duduk siswa, penataan ruang kelas, dan lain sebagainya.

JENIS-JENIS PENELITIAN TINDAKAN KELAS (skripsi dan tesis)


Ada empat jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang akan dibahas yakni: PTK diagnostik; PTK partisipan; PTK empiris; dan PTK eksperimental. Untuk lebih jelasnya, berikut dijelaskan secara singkat mengenai keempat jenis PTK tersebut.
1. Penelitian Tindakan Kelas Diagnostik
Yang dimaksud PTK diagnostik adalah penelitian yang dirancang dengan dengan menuntun peneliti ke arah suatu tindakan. Dalam hal ini peneliti mendiagnosis dan memasuki situasi yang terdapat didalam latar penelitian.
2. Penelitian Tindakan Kelas Partisipan
Suatu penelitian tindakan kelas yang dikatakan partisipan adalah apabila orang yang akan melakukan atau melaksanakan penilaian harus ikut terlibat langsung dalam proses penelitian sejak awal sampai dengan hasil penelitian berupa laporan.
3. Penelitian Tindakan Kelas Empiris
Yang dimaksud PTK empiris ialah apabila peneliti berupaya melaksankan sesuatu tindakan atau aksi dan membukakan apa yang dilakukan dan apa yang terjadi selama aksi berlangsung. Pada prinsipnya proses penelitiannya berkenaan dengan penimpanan catatan dan pengumpulan pengalaman peneliti dalam pekerjaan sehari-hari.
4. Penelitian Tindakan Kelas Eksperimental
Jenis PTK ini memiliki nilai potensial terbesar dalam kemajuan pengetahuan ilmiah. Yang dikategorikan sebagai PTK eksperimental ialah apabila PTK diselenggarakan dengan berupaya menerapkan berbagai teknik atau strategi secara efektif dan efesien didalam suatu kegiatan belajar mengajar. Didalam kaitannya dengan kegiatan belajar mengajar dimungkinkan terdapat lebih dari satu strategi atau teknik yang ditetapkan untuk mencapai suatu tujuan instruksional. Dengan diterapkannya PTK ini diharapkan peneliti dapat menentukan cara mana yang paling efektif untuk mencapai tujuan pengajaran.

KARAKTERISTIK PENELITIAN TINDAKAN KELAS (skripsi dan tesis)

Adapun beberapa karakter tersebut adalah:
  1. PTK hanya dilakukan oleh guru yang memahami bahwa proses pembelajaran perlu diperbaiki dan ia terpanggil jiwanya untuk memberikan tindakan-tindakan tertentu untuk membenahi masalah dalam proses pembelajaran dengan cara melakukan kolaborasi. Menurut Usman (dalam Daryanto,2011:2) guru dengan kompetensi tinggi merupakan seorang yang memiliki kemampuan dan keahlian serta keterampilan dalam bidangnya. Sehingga Ia dapat melakukan fungsi dan tugasnya sebagai pengajar dan pendidik dengan maksimal.
  2. Refleksi diri, refleksi merupakan salah satu ciri khas PTK yang paling esensial. Dan ini sekaligus sebagai pembeda PTK dengan penelitian lainnya yang menggunakan responden dalam mengumpulkan data, sementara dalam PTK pengumpulan data dilakukan dengan refleksi diri. (Tahir,2012:80)
3.Penelitian tindakan kelas dilaksanakan di dalam “kelas” sehingga interaksi antara siswa dengan guru dapat terfokuskan secara maksimal. “Kelas” yang dimaksud di sini bukan hanya ruang yang berupa gedung, melainkan “tempat” berlangsungnya proses pembelajaran antara guru dan murid. (Suyadi,2012:6)
  1. PTK bertujuan untuk memperbaiki proses pembelajaran secara terus menerus. PTK dilaksakan secara berkesinambungan di mana setiap siklus mencerminkan peningkatan atau perbaikan. Siklus sebelumnya merupakan patokan untuk siklus selanjutnya. Sehingga diperoleh model pembelajaran yang paling baik. (Daryanto,2011:6)
5.PTK merupakan salah satu indikator dalam peningkatan profesionalisme guru, karena PTK memberi motivasi kepada guru untuk berfikir Kritis dan sistematis, membiasakan guru untuk menulis, dan membuat catatan yang dapat. Di mana semua itu dapat menunjang kemampuan guru dalam pembelajaran. (Daryanto,2011:6)
6.PTK bersifat fleksibel sehingga mudah diadaptasikan dengan keadaan kelas. Dengan demikian proses pembelajaran tidak monoton oleh satu model saja.(Tahir,2012:81)
7.PTK menggunakaan metode kontekstuall. Artinya variable- variable yang akan dipahami selalu berkaitan dengan kondisi kelas itu sendiri. Sehingga data yang diperoleh hanya berlaku untuk kelas itu saja dan tidak dapat digeneralisasikan dengan kelas lain. (Tahir,2012:81)
8.PTK dalam pelaksanaannya terbikai dalam beberapa pembagian waktu atau siklus. (Sukardi,2011:212)
9.PTK tidak diatur secara khusus untuk memenuhi kepentingan penelitian semata. melainkan harus disesuaikan dengan program pembelajaran yang sedang berjalan di kelas tersebut. (Sanjaya,2010:34)

Menurut Ibnu (dalam Aqib,2009:16) memaparkan bahwa PTK memiliki karakteristik dasar yaitu:
a.Dalam pelaksanaan tindakan berdasarkan pada masalah yang dihadapi guru;
  1. Adanya perpaduan dalam pelaksanaanya;
c.Peneliti sebagai media yang melakukan refleksi;
d.Bertujuan memperbaiki dan atau meningkatkan kualitas praktik instruksional;
e.Dalam pelaksanaannya terbagi beberapa siklus atau periode.

PENGERTIAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS (skripsi dan tesis)


Beberapa pengertian PTK berikut ini :
a. Menurut Lewin (Tahir 2012:77), PTK merupakan siasat guru dalam mengaplikasikan pembelajaran dengan berkaca pada pengalamnya sendiri atau dengan perbandingan dari guru lain.
b. Menurut Bahri (2012:8), Penelitian Tindakan Kelas merupakan sebuah kegiatan yang dilaksanakan untuk mengamati kejadian-kejadian dalam kelas untuk  memperbaiki praktek dalam pembelajaran agar lebih berkualitas dalam proses sehingga hasil belajarpun menjadi lebih baik.
c. Menurut Suyadi,2012:18, PTK secara lebih sistematis dibagi menjadi tiga kata yaitu penelitian, tindakan, dan kelas. Penelitian yaitu kegiatan mengamati suatu objek tertentu dengan menggunakan prosedur tertentu untuk menemukan data dengan tujuan meningkatkan mutu. Kemudian tindakan yaitu perlakuan yang dilakukan dengan sengaja dan terencana dengan tujuan tertentu. Dan kelas adalah tempat di mana sekelompok peserta didik menerima pelajaran dari guru yang sama.
d.  Menurut Sanjaya,2010:25, Secara bahasa ada tiga istilah yang berkaitan dengan penelitian tindakan keleas (PTK), yakni penelitian, tindakan, dan kelas. Pertama, penelitian adalah suatu perlakuan yang menggunakan metologi untuk memecahkan suatu masalah. Kedua, tindakan dapat diartikan sebagai perlakuan yang dilakukan oleh guru untuk memperbaiki mutu. Ketiga kelas menunjukkan pada tempat berlangsungnya tindakan.
e. Menurut John Elliot, PTK adalah peristiwa sosial dengan tujuan untuk meningkatkan kualiatas tindakan di dalamnya. Di mana dalam proses tersebut mencakup kegiatan yang menimbulkan hubungan antara evaluasi diri dengan peningkatan profesional.
f.  Menurut Kemmis dan Mc. Taggart (Sanjaya,2010:25), PTK adalah gerakan diri sepenuhnya yang dilakukan oleh peserta didik untuk meningkatkan pemahaman.
g.Menurut Arikunto (Suyadi,2012:18), PTK adalah gabungan pengertian dari kata “penelitian, tindakan dan kelas”. Penelitian adalah kegiatan mengamati suatu objek, dengan menggunakan kaidah metodologi tertentu untuk mendapatkan data yang bermanfaat bagi peneliti dan dan orang lain demi kepentingan bersama. Selanjutnya tindakan adalah suatu perlakuan yang sengaja diterapkan kepada objek dengan tujuan tertentu yang dalam penerapannya dirangkai menjadi beberapa periode atau siklus. Dan  kelas adalah tempat di mana sekolompok siswa belajar bersama dari seorang guru yang sama dalam periode yang sama.

Senin, 05 Desember 2016

Model Pembelajaran dengan Pendekatan Bermain (skripsi dan tesis)


Pendekatan bermain adalah salah satu bentuk dari sebuah pembelajaran jasmani yang dapat diberikan di segala jenjang pendidikan. Hanya saja, porsi dan bentuk pendekatan bermain yang akan diberikan, harus disesuaikan dengan aspek yang ada dalam kurikulum. Selain itu harus dipertimbangkan juga faktor usia, perkembangan fisik, dan jenjang pendidikan yang sedang dijalani oleh mereka.
Model pembelajaran dengan pendekatan bermain erat kaitannya dengan perkembangan imajinasi perilaku yang sedang bermain, karena melalui daya imajinasi, maka permainan yang akan berlangsung akan jauh lebih meriah. Oleh karena itu sebelum melakukan kegiatan, maka guru pendidikan jasmani, sebaiknya memberikan penjelasan terlebih dahulu kepada siswanya majinasi tentang permainan yang akan dilakukannya.

Metode Pembelajaran Dengan Metode Bimbingan (Guidance)


Teknik atau metode bimbingan adalah metode yang paling umum dalam  latihan, di mana siswa dituntun dengan berbagai cara melalui pemolaan gerak. Dalam penggunaannya metode ini mempunyai beberapa  tujuan, dan yang paling utama adalah untuk mengurangi kesalahankesalahan dan memastikan bahwa pola yang tepat sudah dilakukan.
Penggunaan metode bimbingan terutama arnat penting dalam cabangcabang olahraga yang berbahaya seperti senam di mana bantuan yang diberikan akan memperkecil timbulnya bahaya, atau dalam renang di mana siswa pemula yang masih takut dapat ditolong dengan alat-alat yang dipergunakan. Demikian juga untuk olahraga-olahraga yang menggunakan peralatan yang mahal dan juga berisiko tinggi, seperti belajar mengendarai mobil atau menerbangkan pesawat.
1)      Jenis Belajar Terbimbing
Metode bimbingan terdiri dari berbagai macam jenis tergantung dari setting pembelajarannya. Beberapa bentuk bimbingan sedikit longgar, sehingga hanya memberikan kepada siswa sedikit bantuan untuk tampil. Contohnya adalah pada pembelajaran sepak bola atau menari yang pelatihnya hanya memberikan tanda-tanda verbal untuk menolong siswa-nya mengerti tentang tugas yang dilakukan. Bentuk lain dari bimbingan ada yang lebih ketat dan bersifat langsung kontak dengan siswanya, baik pelatih  atau guru yang melakukannya atau hanya berupa peralatan.
Setiap metode tentunya memberi siswa beberapa jenis bantuan sementara selama proses latihan berlangsung. Harapannya adalah bahwa tanpa bantuan tersebut, kelak si siswa akan mampu melakukannya lagi dengan lebih baik lagi. Beberapa penelitian mengenai metode ini telah memberikan gambaran yang jelas mengenai kapan, pada kondisi apa, dan  pada jenis keterampilan yang bagaimana metode ini paling baik di gunakan.
2)      Efektivitas Metode Latihan Terbimbing
Eksperimen klasik yang memberikan banyak informasi dan wawasan ke dalam proses-proses yang terlibat dalam latihan terbimbing telah dilaksanakan tiga dekade lalu oleh Annett (Schmidt, 1991). Dia mengharuskan  subyek penelitiannya untuk belajar menghasilkan sejumlah tertentu penekanan pada pengungkit tangan. Selama pergerakan satu grup subyek menerima tuntunan visual tambahan pada monitor yang menampilkan jumlah tekanan yang baru saja dilakukan dihubungkan dengan sasaran tekanan, sedangkan grup yang lain tidak. Selama latihan bimbingan itu memudahkan penampilan. Akan tetapi, pada test retensi dengan bimbingan yang dilepaskan, grup yang dibimbing ternyata tampil buruk, dengan beberapa subyek menekan begitu kuatnya pada alatnya sampai rusak. Dengan begitu siswa yang telah belajar tugas gerak yang dimaksud dengan alat itu tidak dapat tampil tanpanya.
Hal ini menampilkan prinsip penting dari latihan terbimbing. Bimbingan efektif untuk menampilkan sesuatu ketika bimbingan itu memang ada  terus selama latihan. Jika kehadirannya dihilangkan, maka penampilan yang bagus karena kehadirannya praktis hilang juga ketika bimbingan itu  dihilangkan. Dari kenyataan tersebut maka dapat disimpulkan bahwa metode latihan dengan menggunakan bimbingan kurang dapat dipertanggungjawabkan.
Namun demikian bukan berarti bahwa latihan terbimbing tidak bisa lagi digunakan dalam proses latihan gerak. Keuntungannya tetap ada jika metode bimbingan ini diterapkan pada dua kondisi di bawah ini:
a)          Latihan Dini.  Dalam latihan yang sangat dini, ketika siswa sedang mengembangkan gagasan tugas yang paling primitif, prosedur bimbingan dapat menjadi berguna. Prosedur itu akan dapat menolong menampilkan gambaran dasar dari suatu keterampilan, memberikan petunjuk kasar tentang apa yang harus dilakukan, dan memulai siswa menunjukkan cara yang tepat untuk membuat upaya pertamanya.  Untuk menghindarinya, maka prosedur ini harus segera diubah secepat mungkin, yaitu pada titik di mana si siswa dapat melakukan tugas itu secara independen.
b)         Tugas Berbahaya.  Kekecualian lain untuk menggunakan prosedur bimbingan adalah pada situasi yang berbahaya. Bimbingan fisik, seperti sabuk penopang yang sering digunakan oleh pesenam dalam mempelajari rakan baru, dapat mencegah terjadinya cedera. Jika alat yang diperlukan tidak tersedia, maka guru atau pelatih harus memberikan bimbingan fisik pada saat-saat kritis. Ketika siswa tadi menambah kemampuannya, maka tingkat bantuannya dapat secara bertahap dikurangi, dengan ketentuan ia masih siap jika sewaktu-waktu bantuannya diperlukan. Dalam hal ini, prosedur demikian mempunyai nilai manfaat lain, yaitu  di antaranya untuk mengurangi rasa takut atau keraguan dari si siswa. Kepercayaan siswa bahwa dirinya tidak akan cedera dapat menambah keefektifan dalam konsentrasi pada pola gerakan yang sedang dipelajari.
b.      Latihan Padat dan Terdistribusi
Dikaitkan dengan penggunaan waktu dalam proses latihan, maka metode latihan yang lain dapat ditentukan, yaitu latihan padat (massed practice) dan latihan terdistribusi (distributed practice). Latihan padat menunjukkan sedikitnya waktu istirahat di antara ulangan. Misalnya, jika tugas latihan mempunyai lama waktu pelaksanaan 30 detik, latihan padat akan menjadwalkan istirahat pada setiap ulangannya hanya sedikit sekali (misalnya 5 detik) atau tidak istirahat sama sekali. Sedangkan di pihak lain, penggunaan metode latihan terdistribusi akan memerlukan istirahat di antara ulangannya minimal selama waktu pelaksanaannya, misalnya 30  detik atau lebih lama.
Tidak ada garis pembatas yang jelas antara latihan padat dan distribusi ini. Patokannya bahwa latihan padat biasanya mengurangi waktu istirahat di antara latihan atau ulangan, sedangkan latihan ter-distribusi mempunyai istirahat lebih panjang.
Dinyatakan bahwa perbedaan nyata dari kedua latihan tersebut adalah keterlibatan rasa capai atau lelah pada salah satunya. Akibatnya, kelelahan itu menurunkan penampilan pada ulangan berikut dan mungkin malah mengganggu proses belajar yang biasanya terjadi pada tahap ini.
c.       Keseluruhan Vs Bagian
Beberapa keterampilan terdiri dari beberapa gerakan yang sangat kompleks. Dari kenyataan tersebut cukup jelas bahwa alangkah sulitnya bagi guru untuk menampilkan semua aspek keterampilan tersebut sekaligus kepada siswa sebab siswa pun akan merasa dijejali terlalu banyak informasi dan tugas dan kemungkinannya  tidak akan mampu mengingatnya sama sekali. Terhadap tugas yang demikian, tentunya guru atau pelatih harus mampu menyesuaikan prosedur dan pendekatan yang tepat.
Pendekatan yang sering digunakan manakala mepghadapi gejala tersebut, biasanya guru akan membagi tugas tersebut di atas ke dalam unitunit yang bermakna yang dapat dipisah-pisahkan  (metode bagian).  Tujuan dari prosedur demikian adalah untuk menyatukan unti-unit latihan ini ke dalam keterampilan keseluruhan pada penampilan berikutnya. Tentunya hal tersebut tidak semudah memperkirakannya sebab terdapat banyak hal yang membuat menggabungkan kembali unit-unit itu menjadi keterampilan  utuh cukup sulit dilakukan. Oleh karena itu, pertanyaan yang harus diajukan adalah bagaimana menciptakan sub-sub unit dari keterampilan tersebut dan bagaimana subsub tersebut harus dilatih untuk transfer yang maksimum terhadap keterampilan yang utuh.
Adalah hal yang mudah membagi-bagi suatu keterampilan ke dalam bagian-bagian. Kita bisa memisahkan teknik lompat jauh menjadi  sub-sub unit seperti awalan, tolakan, melayang di udara, dan mendarat. Bahkan setiap sub unit tadi dapat juga dibagi-bagi lagi. Tetapi pertanyaan yang nyata adalah apakah bagian-bagian tersebut, yang dilatih secara terpisah-pisah, akan efektif untuk mempelajari keterampilan utuh? Berapa banyak waktu, jika ada, yang harus dihabiskan pada latihan bagian, dan akankah waktu ini menjadi lebih efektif bila digunakan untuk melatih tugas yang utuh?
Jawaban untuk pertanyaan tersebut cukup jelas pada penglihatan awal. Sebab bagian yang dilatih secara terpisah itu nampak sama seperti bagian dalam tugas yang utuh, maka transfer dari tugas per bagian ke tugas keseluruhan akan nampak mudah. Pandangan ini bisa jadi benar dalam kasus tertentu, tetapi terdapat situasi-situasi di mana transfer itu jauh dari sempurna. Perbedaan-perbedaan dalam efektivitas latihan bagian ini tergantung pada beberapa hal.
1)      Keterampilan Serial.
Dalam banyak keterampilan serial, masalah yang dihadapi siswa adalah mengorganisir satu set kegiatan ke dalam urutan yang tepat. Melatih subtugas khusus biasanya efektif dalam mentransfer ke dalam rangkaian keseluruhan. Transfer bagian paling baik berlaku pada tugas-tugas serial yang panjang, di mana aksi (kesalahan) dari satu bagian tidak mempengaruhi aksi dari bagian berikutnya. Dengan demikian, jika bagian-bagian dari keterampilan itu tidak terlalu erat kaitannya satu sama lain, maka tidak ada masalah jika guru menggunakan metode ini. Siswa dalam hal ini akan memungkinkan untuk berkonsentrasi pada bagian yang paling susah dan mengabaikan yang paling mudah, sehingga waktu latihan lebih efisien.
Masalahnya, banyak juga suatu keterampilan dalam olahraga terdiri dari bagian-bagian yang kaitan antara satu bagian dengan bagian yang lain demikian eratnya;  sehingga kegagalan di satu bagian akan mempengaruhi keberhasilan bagian yang berikutnya. Jika demikian halnya, maka metode bagian tidak dapat digunakan pada keterampilan semacam ini.
2)      Keterampilan Diskrit.
Setiap keterampilan biasanya mengandung nuansa serial, yang mana bagian-bagian tertentu darinya berangkai dengan bagian-bagian lain. Seperti gerakan memukul dalam softball, yang berisi melangkah, memutar pinggul, dan mengayun lengan. Pada beberapa titik, bagian-bagian individual ini, ketika dilihat  secara terpisah, hilang maknanya sebagai bagian itu. Jika keterampilan demikian yang hendak dipelajari, maka metode keseluruhan akan cukup bermakna.
Beberapa eksperimen mengenai metode ini mengatakan bahwa penggunaan metode bagian untuk keterampilan diskrit secara terpisah tidak menghasilkan transfer yang baik, terutama jika keterampilan tersebut bersifat cepat dan balistik. Kenyataan ini menunjukkan bahwa gerakan yang  cepat biasanya berinteraksi secara kuat antara bagian-bagiannya.
3)      Prinsip Kekhususan.
Menurut konsep motor program, aksi yang cepat dikontrol secara openloop, dengan keputusan tentang struktur aksi tersebut telah diprogram terlebih  dahulu. Menampilkan hanya satu bagian dari aksi semacam ini, khususnya jika bagian itu mempunyai dinamika yang berbeda ketika  ditampilkan secara terpisah, memerlukan penggunaan program yang  berbeda, yaitu yang bertanggung jawab hanya untuk bagian itu. Jadi melatih program bagian ini hanya menyumbang pada peningkatan penampilan pada bagian itu secara terpisah, tetapi tidak akan menyumbang apa-apa terhadap penghasilan gerakan keseluruhan, yang didasarkan pada motor program yang berbeda.
4)      Bagian Progresif.
Beberapa latihan bagian dapat sangat menolong, terutama jika elemenelemen aksi itu banyak jumlahnya  dan memberikan kesulitan untuk siswa dalam merangkaikannya secara tepat. Metode latihan bagian yang lama bisa bermanfaat dalam mempelajari aksi yang demikian. Akan tetapi untuk meminimalkan masalah-masalah belajar yang tidak mudah ditransfer dari bagian ke keseluruhan, banyak guru menggunakan  latihan bagian progresif. Dalam metode ini bagian-bagian dari suatu keterampilan yang kompleks diberikan secara terpisah, tetapi bagian-bagian tadi diintegrasikan ke dalam bagian-bagian yang lebih besar, dan akhirnya menjadi keseluruhan, ketika keseluruhan bagian-bagian itu dikuasai.
Pada prinsipnya, metode progresif ini mengikuti jalur demikian. Pada tahap satu, latihan hanya melibatkan satu bagian dari suatu keterampilan. Pada tahap dua, bagian pertama tadi digabung dengan bagian kedua, sehingga menampilkan latihan pola gerak yang berbeda. Pada tahap tiga, bagian satu dan bagian dua tadi digabung lagi dengan bagian tiga, yang menunjukkan pola gerak yang semakin meningkat kompleksitasnya. Demikian seterusnya hingga seluruh bagian yang tersisa akhirnya  tergabung secara keseluruhan. Pada tahapan terakhir, tentunya seluruh bagian tadi sudah tergabungkan, sehingga latihan yang dimaksud sudah  menunjukkan keutuhannya.