Tampilkan postingan dengan label Judul Kedokteran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Judul Kedokteran. Tampilkan semua postingan

Jumat, 13 April 2018

Air buangan industri (skripsi dan tesis)

Air buangan merupakan air limbah yang sudah tidak dapat dipergunakan oleh masyarakat dan mempunyai efek yang sangat membahayakan kesehatan manusia, merugikan ekonomi, merusak atau membunuh kehidupan dalam air dan dapat merusak keindahan. Efek yang kiranya perlu lebih diperhatikan dalam industri yang merupakan tantangan dan kebutuhan hidup bagi masyarakat (Sugiharto,1987).
Sedangkan Putranto (1989) mendefinisikan air buangan adalah cairan buangan yang berasal dari rumah tangga, industri, dan tempat-tempat umum. Biasanya buangan ini mengandung bahan-bahan atau zat-zat yang dapat membahayakan  kehidupan manusia. Menurut Azwar (1996), air limbah biasanya muncul sebagi akibat hasil perbuatan manusia, termasuk industrialisasi.

Pencegahan dan Pengendalian Infeksi Rumah Sakit (skripsi dan tesis)

Pencegahan dan pengendalian infeksi nosokomial adalah tanggung jawab semua individu dan semua penyedia jasa pelayanan kesehatan. Setiap orang harus bekerja sama untuk mengurangi risiko infeksi bagi pasien dan petugas RS. Petugas kesehatan terdiri atas: petugas medis seperti dokter dan perawat; petugas sanitasi atau kebersihan lingkungan; petugas penunjang seperti petugas perawatan peralatan teknis dan bangunan, manajemen, apoteker, pengadaan bahan dan produk, dan pelatihan pekerja kesehatan. Program pencegahan dan pengendalian infeksi RS yang efektif harus komprehensif dan mencakup kegiatan surveilans serta pelatihan petugas kesehatan. Menurut WHO (2002), survailans merupakan proses yang efektif untuk mengurangi frekuensi infeksi yang terjadi di RS. Program tersebut harus mendapat dukungan yang efektif pada tingkat nasional dan daerah disertai dengan kesiapan dana untuk meunjang keberhasilan program tersebut. Keterkaitan hal tersebut dapat dilihat pada Gambar 2.2.

Pemerintah dalam merespon kejadin infeksi nosokomial mengeluarkan kebijakan dalam bentuk Keputusan Menteri Kesehatan (Kepmenkes) RI nomor 270/2007 tentang Pedoman Manajerial Pencegahan dan Pengendalian infeksi di Rumah Sakit dan Fasilitas Kesehatan lain, dan Kepmenkes No. 382/Menkes/SK/III/2007 tentang Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Infeksi di Rumah Sakit dan Fasilitas Kesehatan lainnya. Berdasarkan Kepmenkes tersebut, Perhimpunan Pengendalian Infeksi Indonesia (Perdalin) di bawah naungan Departemen Kesehatan RI mengeluarkan buku Pedoman Pencegahan dan pengendalian Infeksi di RS dan Fasilitas Pelayanan Kesehatan Lainnya. Dalam teori sistem ilmu politik yang dikembangkan oleh David Easton tahun 1953, kebijakan publik dipandang sebagai respons sistem politik terhadap tuntutan yang muncul dari lingkungannya (Rudana, 2008)

Pencegahan infeksi nosokomial membutuhkan program terpadu dan pemantauan mencakup komponen-komponen sebagai berikut (WHO, 2002):
  1. Membatasi penularan organisme secara langsung antara pasien dalam masa perawatan melalui pencucian tangan dan sarung tangan memadai yang digunakan, praktek aseptis yang sesuai, strategi isolasi, sterilisasi dan desinfeksi, dan laundry (pencucian).
  2. Mengendalikan risiko lingkungan terhadap infeksi.
  3. Melindungi pasien dengan penggunaan profilaksis antimikroba yang tepat, gizi, dan vaksinasi.
  4. Membatasi risiko infeksi endogen dengan meminimalkan prosedur invasif dan mempromosikan penggunaan antimikroba optimal.
  5. Surveilans terhadap infeksi, identifikasi, pengendalian wabah penyakit.
  6. Pencegahan infeksi pada petugas RS.
  7. Meningkatkan kemampuan petugas RS dalam praktek perawatan pasien dan edukasi berkelanjutan kepada petugas RS.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Infeksi Nosokomial (skripsi dan tesis)

ktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan infeksi nosokomial menurut WHO (2002) antara lain: kerentanan pasien, agen mikrobia, faktor lingkungan dan resistensi bakteri. Berikut ini uraian dari faktor-faktor yang mempengaruhi infeksi nosokomial.

2.1.2.1 Kerentanan Pasien
Seperti terlihat pada Gambar 2.2 pada kotak berwarna merah menunjukkan faktor internal yang mempengaruhi akuisisi infeksi pasien meliputi:
  1. Usia karena masa kanak-kanak dan usia tua memiliki hubungan dengan penurunan resistensi terhadap infeksi
  2. Status kekebalan, misalnya bagian dari flora bakteri normal dalam manusia dapat menjadi patogen ketika pertahanan kekebalan tubuh terganggu, obat-obatan imunosupresif atau iradiasi dapat menurunkan resistensi terhadap infeksi, luka kulit atau selaput lendir melewati mekanisme pertahanan alam, dan malnutrisi juga risiko terhadap infeksi.
  3. Penyakit kronis yang mendasari pasien seperti tumor ganas, leukemia, diabetes mellitus, gagal ginjal, atau Acquired ImmunoDeficiency Syndrome (AIDS) mengalami peningkatan kerentanan terhadap infeksi dengan patogen oportunis
  4. Diagnostik dan intervensi terapeutik, misalnya biopsi, pemeriksaan endoskopi, kateterisasi, intubasi / ventilasi dan suction dan prosedur bedah meningkatkan risiko infeksi. Benda atau bahan yang tercemar dapat diperkenalkan secara langsung ke jaringan atau situs steril normal seperti saluran kemih dan saluran pernafasan bawah.

2.1.2.2 Agen Mikrobia
Pasien dapat terkena berbagai mikroorganisme selama perawatan di rumah sakit. Kontak antara pasien dan mikroorganisme tidak dengan sendirinya selalu menghasilkan perkembangan penyakit klinis. Kemungkinan terkena infeksi tergantung karakteristik dari mikroorganisme seperti perlawanan terhadap agen antimikroba, intrinsik virulensi, dan jumlah (inokulum) dari bahan infektif.

Transmisi agen mikrobia atau mikroorganisme yang menyebabkan infeksi nosokomial dapat diperoleh dalam beberapa cara, yaitu:
  1. Infeksi endogen dari flora normal pasien
Bakteri yang ada di flora normal menyebabkan infeksi karena penularan ke saluran kemih, kerusakan jaringan, terapi antibiotik yang tidak tepat yang memungkinkan pertumbuhan yang berlebihan. Sebagai contoh, bakteri Gram-negatif dalam saluran pencernaan sering mengakibatkan infeksi luka operasi setelah pembedahan perut dan infeksi saluran kemih pada pemasangan kateter.

  1. Infeksi silang atau eksogen dari flora pasien lain atau petugas RS
Bakteri ini menular antar pasien: (a) melalui kontak langsung antara pasien, misalnya tangan, tetesan air liur atau cairan tubuh lain, (b) di udara (droplet atau debu yang terkontaminasi oleh bakteri pasien), (c) melalui staf yang terkontaminasi melalui pasien perawatan yang menjadi pembawa sementara atau permanen, kemudian menularkan bakteri kepada pasien lain melalui kontak langsung selama perawatan, (d) melalui benda-benda yang terkontaminasi oleh pasien, tangan petugas RS, pengunjung dan sumber-sumber lingkungan misalnya air, cairan lain, makanan.

  1. Infeksi endemik dari perawatan kebersihan lingkungan RS
  1. Beberapa jenis mikroorganisme bertahan hidup dalam lingkungan rumah sakit: Dalam air, daerah basah, dan kadang-kadang dalam produk steril atau desinfektan, antara lain Pseudomonas, Acinetobacter, Mycobacterium.
  2. Dalam barang-barang seperti kain linen, peralatan dan perlengkapan yang digunakan dalam perawatan.
  3. Dalam makanan.
  4. Dalam debu dan tetesan nukleus yang dihasilkan oleh batuk atau pada saat berbicara. Hal ini dapat terjadi karena bakteri dengan ukuran diameter lebih kecil dari 10 μm dapat bertahan di udara selama beberapa jam dan dapat dihirup dengan cara yang sama seperti debu halus (WHO, 2002).

Kontaminasi bakteri luka preoperasi diketahui sebagai risiko utama faktor terjadinya ILO. Kualitas mikrobiologi udara ruang operasi adalah salah satu parameter yang signifikan untuk mengendalikan ILO. Menurut Dixon (1981) bahwa pada operasi tulang pinggul ditemukan adanya kesamaan bakteri yang terdapat pada luka pasien dan bakteri yang terdapat di udara, hasilnya antara lain jumlah terbesar yaitu S. epidermidis pada luka pasien terdapat 34 bakteri, sedangkan dari hasil sampel udara sebanyak 37 bakteri. Kemudian diikuti 20 S. aureus yang terdapat di luka pasien, dan 9 bakteri dari sampel udara.

Penelitian dilaksanakan oleh Kaur dan Hans (2007) di tujuh ruang operasi dari sebuah rumah sakit pendidikan perawatan tersier kota India dengan fasilitas 1000 tempat tidur yang dilakukan selama satu tahun. Sebanyak 344 sampel yang diambil berulang kali dari tujuh operasi yang berbeda di ruang operasi, kemudian diproses dengan hasil isolasi bakteri yaitu S. aureus (16%), negatif Coagulase Staphylococcus (26,7%), Acinetobacter spp. (2,03%) dan Klebsiella spp. (0,3%). Berkumpulnya staf medis di ruang operasi, disertai residen dan mahasiswa merupakan masalah penting, bersamaan dengan masalah desain dan ventilasi yang terdapat diruang operasi tersebut.

Di negara berkembang, kekurangan dalam desain bangunan dan ventilasi yang tidak tepat berkontribusi terhadap kontaminasi mikroorganisme di dalam ruang lingkungan RS. Kurangnya udara segar karena peningkatan isolasi bangunan, kurang terpelihara atau dioperasikan sistem ventilasi, kurang diatur suhu dan tingkat kelembaban relatif berkontribusi terhadap kehadiran dan multiplikasi mikroorganisme di udara (Srikanth P., et al. 2008).

Indonesia memiliki peraturan dalam menetapkan atura persyaratan kesehatan lingkungan RS melalui Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor: 1204/MENKES/SK/X/2004. Peraturan tersebut merupakan pedoman pihak pengelola RS agar bertanggung jawab di dalam mewujudkan lingkungan RS yang sehat.

Untuk mencapai kualitas udara dalam ruang RS yang baik merupakan sebuah tantangan bagi teknisi perawatan bangunan gedung dan petugas kesehatan. Petugas kesehatan harus berlatih melakukan perawatan medis dengan mengontrol sumber polutan untuk mengurangi emisi polutan, antara lain melakukan diagnosis klinis untuk mengidentifikasi pasien menular dengan isolasi yang tepat. Di sisi lain, teknisi ruangan harus merancang, mengoperasikan, dan memelihara pemanas, ventilasi, dan sistem pendingin ruangan yang efektif dalam upaya pengurangan dan pengenceran polutan udara dalam ruangan (Leung dan Chan, 2006).

2.1.2.3 Faktor Lingkungan
Pasien dengan infeksi atau pembawa mikroorganisme patogen dirawat di rumah sakit adalah sumber potensial infeksi untuk pasien dan petugas RS. Pasien yang terinfeksi di rumah sakit merupakan sumber infeksi lebih lanjut. Kondisi penuh sesak di dalam rumah sakit dan ketika pasien sering transfer dari satu unit ke unit lain sangat rentan terhadap infeksi dalam satu daerah, misalnya bayi yang baru lahir, pasien luka bakar, dan perawatan intensif. Pasien tersebut berkontribusi terhadap perkembangan infeksi nosokomial. Flora mikroba dapat mencemarkan benda, perangkat, dan bahan-bahan yang kemudian menghubungi situs tubuh rentan pasien (WHO, 2002).

Selain itu, petugas kesehatan dan pengunjung juga merupakan sumber infeksi asal udara yang signifikan di antara pasien. Airborne droplet sering mengandung bakteri seperti S. aureus, S. epidermidis, dan bakteri-bakteri batang gram negatif. Bakteri tersebut pada umumnya sebagai penyebab terjadinya infeksi nosokomial luka operasi (Spengler et al, 2000).

Sumber mikroorganisme penyebab penyakit di RS yang paling besar berasal dari tangan petugas dan penderita infeksi. Kemudian melalui beberapa media antara lain air, makanan, dan udara dapat menimbulkan kontaminasi mikroorganisme di rumah sakit. Udara bukan merupakan habitat untuk mikroorganisme. Sel-sel mikroorgansme berada dalam udara sebagai kontaminan bersama debu atau dengan tetesan ludah. Mikroorganisme patogen dipindahkan melalui udara dan masuk ke dalam tubuh manusia melalui saluran respirasi. Hal ini menyebabkan penyakit pada saluran pernapasan. Mikroorganisme patogen asal udara, cenderung untuk berjangkit secara epidemi kemudian muncul secara eksplosif dan menyerang banyak orang dalam waktu singkat sebagai wabah penyakit (Pelczar dan Chan, 1988).

Patogen udara secara alami dapat menimbulkan infeksi melalui beberapa rute tapi umumnya ditransmisikan melalui aerosol yang disimpan di distal saluran udara, misalnya, virus campak dan variola (cacar) virus. Patogen udara oportunis secara alami menimbulkan penyakit melalui rute yang lain (misalnya saluran cerna), tetapi dapat juga menimbulkan infeksi melalui distal paru-paru dan dapat menggunakan partikel halus aerosol sebagai sarana perkembangbiakan di lingkungan yang menguntungkan (Srikanth et al., 2008).

2.1.2.4 Resistensi Bakteri
Banyak pasien menerima obat antimikroba. Seleksi dan pertukaran unsur-unsur resistensi genetik melalui pemberian antibiotik mempromosikan multidrugresistant dengan adanya strain bakteri. Mikroorganisme dalam flora manusia normal yang sensitif terhadap obat ditekan, sedangkan strain resisten bertahan dan dapat menjadi endemik di rumah sakit. Meluasnya penggunaan antimikroba untuk terapi atau profilaksis adalah penentu utama resistensi.

Infeksi Nosokomial (skripsi dan tesis)

Frekuensi kejadian infeksi nosokomial yang paling sering terjadi menurut WHO (2002) adalah infeksi luka operasi, infeksi saluran kemih, dan infeksi saluran pernapasan bawah. Berikut ini kriteria yang digunakan untuk surveilans infeksi nosokomial, yaitu:
  1. Infeksi luka operasi yaitu adanya cairan purulen, abses, selulitis menyebar di situs bedah atau luka operasi selama satu bulan setelah operasi. Infeksi biasanya diperoleh selama operasi itu sendiri baik eksogen, misalnya dari udara, peralatan medis, ahli bedah dan staf lainnya, dan endogenus dari flora pada kulit atau di situs operasi. Mikroorganisme penyebab infeksi bervariasi tergantung pada jenis dan lokasi operasi dan antimikroba yang diterima oleh pasien. Faktor risiko utama adalah kontaminasi yang terjadi selama operasi tergantung pada panjang operasi, dan kondisi umum pasien. Faktor lain yaitu kualitas teknik bedah, pemasangan benda asing termasuk drain, virulensi dari mikroorganisme, adanya infeksi di tempat lain, pencukuran sebelum operasi, dan pengalaman tim bedah.
  2. Infeksi saluran kemih yaitu kultur urin positif (1 atau 2 spesies) dengan setidaknya 105 bakteri/ml, dengan atau tanpa gejala klinis.
  3. Infeksi pernafasan yaitu gejala pernafasan dengan setidaknya 2 dari tanda-tanda berikut muncul selama dirawat di RS: batuk, sputum purulen, infiltrate baru dengan infeksi di dada pada saat dilakukan sinar rontgen. Koloni mikroorganisme berada di dalam perut, saluran pernapasan atas dan bronkus menyebabkan infeksi di paru-paru (pneumonia). Mikroorganisme tersebut umunya berasal dari dalam tubuh, antar lain sistem pencernaan atau hidung dan tenggorokan, tetapi juga dapat berasal dari luar tubuh seperti  dari peralatan pernapasan yang terkontaminasi. 
  4. Infeksi kateter vaskular yaitu peradangan, limfangitis atau cairan bernanah di lokasi penyisipan kateter.

Jumat, 04 Agustus 2017

KRITERIA DALAM PENELITIAN KLINIS (skripsi dan tesis)


Menurut undang-undang, maka penelitian klinis harus memenuhi tiga kriteria yakni:
a.       Kegiatan peneliitan klinis itu mencakup pemberian obat oleh dokter atau dokter gigi terhadap pasien
b.      Ada bukti-bukti yang menyatakan bahwa obat tersebut mempunyai efek yang bermanfaat bagi pasien
c.       Pemberian obat tersebut bertujuan untuk menentukan berapa besar dan sampai berapa jauh suatu obat mempunyai efek-efek yang menguntungkan atau merugikan
(Soekidjo, 2010)

JENIS DALAM PENELITIAN INTERVENSI (skripsi dan tesis)


Pada dasarnya ada dua tipe penelitian intervensi ini, yakni intervensi di bidang preventif dan penelitian intervensi di bidang kuratif.
a.       Penelitian intervensi preventif
Penelitian ini mencoba mempelajari hubungan faktor resko dengan kejadian suatu penyakit dengan memberikan perlakuan atau manipulasi terhadap faktor tersebut pada subjek. Walau efek perlakuan yang diberikan secara kolektif pada individu dalam masyarakat tersebut dapat diamati dengan pendekatan individual tetapi pengamatan tersebut lebih sering dilakukan dengan pendekatan kelompok.
b.      Penelitian intervensi kuratif
Penelitian eksperimental kuratif/intervensi mencoba memberikan perlakuan terhadap perkembangan suatu penyakit. Dengan kata lain, penelitian ini akan mengungkapkan apakah riwayat alamiah suatu penyakit dapat dimanipulasi atau di intervensi secara spesifik. Perlakuan dalam tipe penelitian ini adalah berupa pemberian penatalaksnaan tindakan kuratif kepada masyarakat untuk menanggulangi penyakit endemi masyarakat. Perlakuan bisa berupa penyuluhan kepada masyarakat dalam bentuk pengobaan massal

(Soekidjo, 2010)


PENGERTIAN PENELITIAN INTERVENSI (skripsi dan tesis)



Penelitian intervensi adalah penelitian eksperimental yang dikenakan pada masyarakat sebagai kesauan himpunan subjek. Peneliti melakukan manipulasi atau memberikan perlakuan bukan dengan pendekatan subjek secara individual seperti pada penelitian klinik, melainkan dengan pendekatan kelompok. Perlakuan diberikan dalam wujud paket yang dikenakan pada subjek secara kolektif dalam komunitas. Efek perlakuan diamati dengan menggunakan satuan analisis inividual maupun kelompok
Nama lain dari penelitian intervensi ini adalah penelitian operasional. Disebut penelitian operasional karena peneliian ini dilakukan sekaligus untuk meperbaiki suatu sistem atau program yang sedang berjalan. Beberapa peneliti menamakan penelitian ini sebagai action research atau penelitian tindakan karena penelitian dilakukan dengan melakukan tindakan yakni intrevensi atau manipulasi salah satu variabel

(Soekidjo, 2010)

RANCANGAN SEPARATE SAMPLE PRETEST POSTTEST (skripsi dan tesis)



Rancangan ini sering digunakan dalam penelitian-penelitian kesehatan dan keluarga berencana. Pengukuran pertama (pretest) dilakukan terhadap sampel yag dipilih secara acak dari populasi tertentu. Kemudian dilakukan intervensi atau program pada seluruh populasi tersebut. Selanjutnya, dilakukan pengukuran kedua (post test) pada kelompok sampel lain yang juga dipilih secara acak (random) dari populasi yang sama. Rancangan ini sangat baik untuk menghindari pengaruh atau efek dari “pretest: meskipn tidak dapat mengkontrol sejarah, maturitas dan instrumen. Rancangan ini dapat di ilustrasikan sebagai berikut:

Pretest
Perlakuan
Posttest
Kel. Eksperimen
01
x

Kel. Kontrol

x
02

Di samping itu, ke empat rancangan eksperimen semu ini rancangan eksperimen sungguhan (true experiment) juga dapat digunakan dalam penelitian eksperimen, hanya simbol R (randomisasi) dilakukan atau diabaikan.
(Soekidjo, 2010)

RANCANGAN NON EQUIVALENT CONTROL GROUP (skripsi dan tesis)



Dalam penelitian lapangan, biasanya lebih dimungkinkan untuk membandingkan hasil intervensi program kesehatan dengan suatu kelompok kontrol yang serupa, tetapi tidak perlu kelompok yang benar-benar sama. Misalnya kita akan melakukan studi tentang perngaruh pelatihan kader terhadap cakupan Posyandu. Kelompok kader yang akan diberikan pelatihan, tidak mungkin sama betul dengan kelompok kader yang tidak akan diberi pelatihan (kelompok kontrol). Bentuk rancangan ini dapat digambarkan sebagai berikut:

Pretest
Perlakuan
Posttest
Kel. Eksperimen
01
x
02
Kel. Kontrol
01
x
02

Rancangan ini disebut sebagai non equivlent control group dan sangat baik digunakan untuk evaluasi program pendidikan kesehatan atau pelatihan-pelatihan lainnya. Di samping itu, rancangan ini juga baik untuk membandingkan hasil intervensi program kesehatan di suatu kecamatan atau desa atau sebaliknya. Dalam rancangan ini pengelompokkan kontrol tidak dapat dilakukan secara random atau acak. Oleh sebab itu rancangan ini sering disebut juga non randomized control pretest posttest design

(Soekidjo, 2010)


RANCANGAN RANGKAIAN WAKTU DENGAN KELOMPOK PEMBANDING (skripsi dan tesis)



Pada dasarnya rancangan ini adalah rancangan rangkaian waktu, hanya saja menggunakan kelomok pembanding (kontrol). Rancangan ini lebih memungkinkan adanya kontrol terhadap validitas internal sehingga keuntungan dari rancangan ini lebih menjamin adanya validitas internal yang tinggi. Bentu rancangan tersebut adalah sebagaimana tercantum sebagai berikut:

Pretest
Perlakuan
Posttest
Kel. Eksperimen
01 02 03
x
04 05 06 07
Kel. Kontrol
01 02 03
x
04 05 06 07


(Soekidjo, 2010)




RANCANGAN RANGKAIAN WAKTU (skripsi dan tesis)



Rancangan ini seperti rancangan pretest post test, kecuali mempunyai keuntungan dengan melakukan observasi (pengukuran yang berulang-ulang), sebelum dan sesudah perlakuan. Bentuk rancangan ini adalah sebagai berikut:
Pretest
Perlakuan
Posttest
01 02 03 04
X
05 06 07 08

Dengan menggunakan serangkan observasi (tes) dapat memungkinkan validitasnya lebih tinggi. Karena pada rancangan pre tes postets kemungkinan hasil 02 dipengaruhi oleh faktor lain di luar perlakuan sangat besar. Sedangkan pada rancangan ini, oleh karena observasi dilakukan lebih dari satu kali (baik sebelum maupun sesudah perlakuan) maka pengaruh faktor luar tersebut dapat dikurangi

(Soekidjo, 2010)

RANCANGAN POSTTEST DENGAN KELOMPOK KONTROL (skripsi dan tesis)



Rancangan ini juga merupakan eskperimen sungguhan dan hampir sama dengan rancangan  Randomizes Salomon Four Grup, hanya bedanya tidak dilakukan pre test. Karena kasus-kasus telah dirandomisasi baik pada kelompok eksperimen maupin kelompok kontrol. Kelompok-kelompok tersebut dianggap sama sebelum dilakukan perlakuan. Bentuk rancangan ini sebagai berikut:

Perlakuan
Post Test
R (kelompok Eksperimen)
X
02
R (kelompok Kontrol)

02

Dengan rancangan ini, memungkinkan peneliti mengukur pengaruh perlakuan (intervensi) pada kelompok eksperimen dengan cara membandingkan kelompok tersebut dengan kelompok kontrol. Tetapi rancangan ini tidak memungkinkan peneliti untuk menentukan sejauh mana atau seberapa besar perubahan itu terjadi, sebab pretest tidak dilakukan untuk menentukan data awal
(Soekidjo, 2010)

RANCANGAN RANDOMIZES SALOMON FOUR GRUP (skripsi dan tesis)


Rancangan ini dapat mengtaasi kelemahan eksternal validitas uang ada pada rancangan randomized control group pretest posttes. Apabila pretest mungkin mempengaruhi subjek sehingga mereka menjadi lebih sensitif terhadap perlakuan (X) dan mereka bereaksi secara berbeda dari subjek yang tidak mengalami pretest maka generalisasi dari penelitian ini untuk populasi. Demikian pula kalau ada interaksi antara pretest dengan perlakuan (X). Rancangan Salomon ini dapat mengtasi masalah ini dengan menambah kelompok ke 3 (dengan perlakuan, tanpa pretest) dan yang ke 4 (tanpa perlakuan, tanpa pretest). Bentuk rancangan ini sebagai berikut:

Pretest
Perlakuan
Posttest
Kel. Eksperimen (a)
01
X
02
Kel. Kontrol
01

02
Kel. Kontrol

X
02
Kel. Kontrol


02


(Soekidjo, 2010)


RANCANGAN PRE TEST POST TES DENGAN KELOMPOK KONTROL (skripsi dan tesis)


Dalam rancangan ini dilakukan randomisasi, artinya engelompokkan anggota-anggota kelompok kontrol dan kelompok eksperimen dilakukan berdasarkan acak atau random. Kemudian dilakukan pretest (01) pada kedua kelompok tersebut dan diikuti intervensi (X) pada kelompok eksperimen. Setelah beberapa waktu dilakukan post tes (02) pada kedua kelompok tersebut. Bentuk rancangan ini sebagai berikut:


Pretest
Perlakuan
Posttest
Kel. Eksperimen
01
x
02
Kel. Kontrol
01

02

Dalam randomisasi (R) maka ke dua kelompok mempunyai sifat yang sama dilakukan ontervensi (perlakuan). Karena  ke dua kelompok sam apada awalnya, amak perbedaan hasil post test (02) pada kedua kelompk tersebut dapat disebut sebagai pengaruh dari intervensi atau perlkuan. Rancangn ini adalah salah satu rancangan yang terkuat dalam mengontrol ancaman-ancaman tehadap validitas.
Tetapi rancangan ini sulit dilaksanakan di lapangan karena biasanya sulit atau bahkan tidak mungkin melakukan randomisasi. Di samping itu, dari etika atau aspek alin sering tidak mungkin melakukan intervensi pada kelompok yang satu dan tidak melakukan ientrevensi pada kelompok lain. Rancangan ini dapat diperluas dengan melibatkan lebih dari satu variabelbeabs. Dengan kata lan, perlakuan dilakukan pada lebih dari satu kelompok, dengan bentuk perlakuan yang berbeda. Rancangan ini dapat digambarkan sebagai berikut:

Pretest
Perlakuan
Posttest
Kel. Eksperimen (a)
01
X (a)
02
Kel. Eksperimen (b)

X (b)
02
Kel. Kontrol
01

02
Pada rancangan ini, kesimpulan-kesimpulan mengenai efek perbedaan antara program (intervensi) satu dengan lainnya dapat dicapai tanpa menggunakan kelompok kontrol
(Soekidjo, 2010)

RANCANGAN PERBANDINGAN KELOMPOK STATIS (skripsi dan tesis)


Rancangan ini seperti rancangan Rancangan Post Test Only Design, hanya bedanya menambahkan kelompok kontrol atau kelompok pembanding. Kelompok eksperimen menerima perlakuan (X) yang diikuti dengan pengukuran kedua atau observasi (02). Hasil observasi ini kemudian dikontrol atau dibandingkan dengan hasil observasi pada kelompok kontrol yang tidak menerima program atau intervensi. Rancangan ini dapat diilustrasikan sebagai berikut:

Perlakuan
Post Test
Kelompok eksperimen
X
02
Kelompok kontrol

02

Dengan rancangan ini , beberapa faktor pengganggu seperti sejarah, testing, maturasi dan instrumen dapat dikontrol walaupun tidak dapat diperhitungkan efeknya.
(Soekidjo, 2010)

RANCANGAN ONE GROUP PRETEST POST TEST (skripsi dan tesis)



Rancangan ini juga tidak ada kelompok pembanding (kontrol), tetapi tidak sudah dilakukan observasi pertama (pretest) yang memungkinkan menguji perubahan-perubahan yang terjadi setelah adanya eksperimen (program). Bentuk rancanganini adalah sebagai berikut:
Pretest
Perlakuan
Posttest
01
X
02

Kelemahan dari rancangan ini antara lain tidak ada jaminan bahwa perubahan yang terjadi pada variabel dependen karena intrevensi atau perlakuan. Tetapi perlu dicatat bahwa rancangan ini tidak terhindar dari berbaga kelemahan tersehadap validitas misalnya sejarah, testing, maturasi dan instrumen

(Soekidjo, 2010)