Senin, 26 Oktober 2015

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Regulasi Emosi


 Williams dari Universitas Duke mengatakan bahwa latihan fisik khususnya yang mengandung nilai relaksasi seperti meditasi dan  hatha yoga  dapat mempengaruhi peningkatan regulasi emosi seseorang karena membantu mengurangi kemarahan,  rasa cemas dan depresi (Robbins, Powers & Burgess, 1997).
Selain faktor diatas, ada beberapa faktor lain yang mempengaruhi kemampuan regulasi  emosi seseorang, yaitu :
a.       Usia
Penelitian menunjukkan bahwa bertambahnya usia seseorang dihubungkan dengan adanya peningkatan kemampuan regulasi emosi, dimana semakin tinggi usia seseorang semakin baik kemampuan regulasi emosinya. Sehingga dengan bertambahnya usia seseorang menyebabkan ekspresi emosi semakin terkontrol (Maider dalam Coon, 2005). Dalam suatu penelitian didapatkan bahwa  kemampuan anak melakukan regulasi emosi tanpa bantuan orang lain terus meningkat sejalan dengan bertambahnya usia. Selain itu, kemampuan untuk mengevaluasi kontrolabilitas dari suatu  stressor dan memilih strategi regulasi juga meningkat sejalan dengan tahapan perkembangan seseorang (Brenner & Salovey, 1997).
b.      Jenis Kelamin
Beberapa penelitian menemukan bahwa  laki-laki dan perempuan berbeda dalam mengekspresikan emosi baik verbal maupun ekspresi wajah sesuai dengan  gendernya. Perempuan menunjukkan sifat feminimnya dengan mengekspresikan emosi sedih, takut, cemas dan menghindari mengekspresikan emosi marah dan bangga yang menunjukkan sifat maskulin. Perbedaan  gender dalam pengekspresian emosi dihubungkan dengan perbedaan dalam tujuan laki-laki dan perempuan mengontrol emosinya. Perempuan lebih mengekspresikan emosi untuk menjaga hubungan interpersonal serta membuat mereka
tampak lemah dan tidak berdaya. Sedangkan laki-laki lebih mengekspresikan marah dan bangga untuk mempertahankan dan menunjukkan dominasi. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa wanita lebih dapat melakukan regulasi terhadap emosi marah dan bangga,
sedangkan laki-laki pada emosi takut, sedih dan cemas (Fischer dalam Coon, 2005). 
Menurut Brenner dan Salovey (1997) mengatakan bahwa wanita lebih sering berusaha mencari dukungan social untuk menghadapi  distress sedangkan pria lebih memilih melakukan aktivitas fisik untuk mengurangi distress. Selain itu, dibanding pria, wanita lebih sering menggunakan  emotion focused regulation yang melibatkan komponen kognitif dan emosi.
c.       Religiusitas
Setiap agama mengajarkan seseorang diajarkan untuk dapat mengontrol emosinya. Seseorang yang tinggi tingkat religiusitasnya akan berusaha untuk menampilkan emosi yang tidak berlebihan bila dibandingkan  dengan orang yang tingkat religiusitasnya rendah (Krause dalam Coon, 2005).
d.      Kepribadian
Orang yang memiliki kepribadian ‘neuroticism’ dengan ciri-ciri sensitif,  moody, suka gelisah, sering merasa cemas, panik, harga diri rendah, kurang dapat mengontrol diri dan tidak memiliki kemampuan  coping yang efektif terhadap stres akan menunjukkan tingkat regulasi emosi yang rendah (Cohen & Armeli dalam Coon, 2005).
e.       Pola Asuh
Beberapa cara yang dilakukan orang tua dalam mengasuh anak dapat membentuk kemampuan anak untuk meregulasi emosinya. Parke (dalam Brenner & Salovey, 1997) mengemukakan beberapa cara orang tua mensosialisasikan emosi kepada anaknya diantaranya melalui: pendekatan tidak langsung dalam interaksi keluarga (antara anak dengan orang tua); teknik teaching dan coaching; dan mencocokkan kesempatan dalam lingkungan.
f.       Budaya
Norma atau  belief yang terdapat dalam kelompok masyarakat tertentu dapat mempengaruhi cara individu menerima, menerima, menilai suatu pengalaman emosi, dan menampilkan suatu respon emosi. Dalam hal regulasi emosi apa yang dianggap sesuai atau  culturally permissible dapat mempengaruhi cara seseorang berespon dalam berinteraksi dengan orang lain dan dalam cara ia meregulasi emosi (Lazarus, 1991).
g.      Individual Dispositional
Brenner & Salovey (1997) menjelaskan bahwa karakteristik kepribadian seperti trait kepribadian yang dimiliki seseorang, dapat mempengaruhi cara seseorang meregulasi emosinya. Contohnya, anak yang mengalami depresi cenderung menggunakan strategi menghindar dalam mengatasi kondisi  distress  dibanding anak yang tidak mengalami depresi.
h.      Tujuan dilakukannya regulasi emosi (Goals)
Merupakan apa yang individu yakini dapat mempengaruhi pengalaman, ekspresi emosi dan respon fisiologis yang sesuai dengan situasi yang dialami (Gross, 1999).
i.        Frekuensi individu melakukan regulasi emosi (Strategies)
Merupakan seberapa sering individu melakukan regulasi emosi dengan berbagai cara yang berbeda untuk mencapai suatu tujuan (Gross, 1999).
j.        Kemampuan individu dalam melakukan regulasi emosi (Capabilities)
Jika trait kepribadian yang dimiliki seseorang mengacu pada apa yang dapat individu lakukan dalam meregulasi emosinya (Gross, 1999).




Tidak ada komentar: