Senin, 26 Oktober 2015

Dinamika Konflik Pada Anak


Beberapa studi telah meneliti kedua baik pada aspek verbal resolusi konflik (yaitu apa yang anak katakan) dan faktual (yaitu apa yang anak lakukan) (Plant & Ladd, 1988) serta penelitian yang memberikan gambaran mengenai konsistensi bagaimana anak menjalankan model resolusi konflik berharga untuk menentukan bagaimana anak-anak terus-menerus menyelesaikan konflik (Zahn-Waxler, Friedman, Cole, Mizuta, dan Hiruma, 1996).
Menurut Phutallaz dan Sheppard (1992) perbedaan-perbedaan aspek bentuk resolusi konflik tersebut tercermin dalam perilaku konflik anak. Anak perempuan cenderung untuk mempertahankan interaksi yang harmonis, sedangkan anak laki-laki tampak lebih menaruh perhatian terhadap kekuasaan dan status selama berinteraksi dengan anak yang lain. Bila konflik terjadi di antara laki-laki, mereka cenderung menggunakan ancaman dan kekerasan, sedangkan anak perempuan cenderung menggunakan strategi yang melunakkan konflik. Demikian pula menurut Collins dan Laursen (1992) pada, anak perempuan lebih terampil dalam mencapai resolusi yang diambil disbanding anak laki-laki dalam usaha menghadapi konflik yang dialaminya. Anak laki-laki lebih banyak menggunakan aksi fisik dibanding anak perempuan. Tetapi penggunaan pola ini akan berubah sejalan dengan bertambahnya usia menjadi penggunaan pola-pola yang lebih efektif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata konflik anak berlangsung selama 31 detik dengan frekuensi sebanyak 5 sampai 8 per jam (Shantz, 1987). Konflik tingkat rendah umumnya berlangsung lebih lama (30 detik hingga satu menit) dan melibatkan lebih banyak energi dan tidak terdapat negoisasi. Konflik semacam ini muncul misalkan pada isu-isu sederhana seperti berbagi permainan. Sedangkan pada konflik lebih tinggi dapat terjadi selama beberapa menit dan menyebabkan anak lebih banyak mengeluarkan energi (Boulter, Von Bergen, Miller and Wells, 2001). 

Tidak ada komentar: