Sabtu, 24 November 2012

Judul Skripsi Biologi Lingkungan: Perkembangan Organisme Transgenik

Teknologi rekayasa genetika, yang juga disebut bioteknologi modern merupakan suatu jenis teknologi yang baru dan tentu saja sangat berbeda dengan teknologi bioteknologi konvensional atau pemuliaan tanaman tradisional yang diterapkan sebelumnya. Pemuliaan tanaman tradisional hanya mampu melakukan penyilangan antar organisme sejenisnya, yaitu yang memiliki faktor genetis yang serupa.
Dalam melakukan tugas itu, para pemulia tanaman tradisional dengan sengaja atau tidak sengaja telah mentransfer bukan hanya satu atau dua gen tetapi beberapa puluh ribu gen. Hal itu merupakan perbandingan yang sangat kontras, bila dibanding dengan teknologi rekayasa genetika atau rDNA yang mampu mentransfer secara lebih cermat, yaitu hanya dengan beberapa gen terpilih, yang ditransfer antarspesies sama sampai antarspesies yang sangat berbeda..
Hasil organisme yang telah mengalami rekayasa, yang dilakukan melalui teknologi pemindahan atau transfer sebuah atau lebih gen antara spesies yang sama atau yang berbeda itu, disebut transgenik. Beberapa puluh pangan transgenik saat ini telah berada di pasaran, di antaranya adalah jagung, jeruk, kedelai dan kapas (kapas sebetulnya bukan pangan, tetapi dari bijinya dapat diekstraksi menjadi minyak makan nabati yang bermutu tinggi).
Para pakar rDNA mampu memotong suatu gen yang dikehendaki, dari organisme, kemudian memindahkan dan menyisipkannya ke dalam setiap organisme lain. Sebagai contoh, kini dengan cara yang relatif mudah manusia dapat memindahkan sebuah gen yang terdapat dalam sel seekor tikus ke dalam DNA dari sel tanaman selada, sehingga jenis tanaman itu lebih kaya vitamin C-nya, atau memindahkan gen dari sebuah sel binatang cecropia dan moth ke dalam tanaman apel, sehingga menjadi apel yang tahan terhadap penyakit yang disebut fire blight yang disebabkan sejenis bakteri yang merusak tanaman buah apel serta pir di seluruh Amerika. (Winarno, 2002:39)
Apa yang ingin dilakukan oleh para ahli genetika ialah memasukkan gen-gen spesifik tunggal ke dalam varietas-varietas tanaman yang bermanfaat. Hal ini akan meliputi dua langkah pokok. Pertama, memperoleh gen-gen tertentu dalam bentuk murni dan dalam jumlah yang berguna. Kedua, menciptakan cara-cara untuk memasukkan gen-gen tersebut ke kromosom-kromosom tanaman, sehingga mereka dapat berfungsi. Langkah yang pertama bukan lagi menjadi masalah. Dengan teknik DNA rekombinan sekarang, ada kemungkinan untuk menumbuhkan setiap segmen dari setiap DNA pada bakteri. Tidak mudah untuk mengidentifikasi segmen khusus yang bersangkutan di antara koleksi klon. Khususnya untuk mengidentifikasi segmen tertentu yang bersangkutan di antara koleksi klon, apalagi untuk mengidentifikasi gen-gen yang berpengaruh pada sifat-sifat seperti hasil produksi tanaman. Langkah kedua, memasukkan kembali gen-gen klon ke dalam tanaman juga bukan sesuatu yang mudah. Peneliti menggunakan bakteri Agrobacterium yang dapat menginfeksi tumbuhan dengan lengkungan kecil DNA yang disebut plasmid Ti yang kemudian menempatkan diri sendiri ke dalam kromosom tumbuhan. Agrobacterium merupakan vektor yang siap pakai. Tambahkan saja beberapa gen ke plasmid, oleskan pada sehelai daun, tunggu sampai infeksi terjadi, setelah itu tumbuhkan sebuah tumbuhan baru dari sel-sel daun tadi. Selanjutnya tumbuhan itu akan mewariskan gen baru kepada benih-benihnya. (Gusyana, Pikiran Rakyat 31 Agustus 2006)
Tujuan utama dari teknik pengembangan tanaman tradisional maupun bioteknologi modern adalah menemukan metode menyisipkan sebuah gen atau beberapa gen dari sebuah organisme donor yang membawa atau memiliki sifat-sifat baik yang dikehendaki ke dalam suatu organisme yang tidak memiliki sifat-sifat tersebut.Tanaman hasil rekayasa genetika atau sering kita sebut sebagai tanaman transgenik melangkah dari eksperimen laboratorium ke uji lapangan dan akhirnya komersialisasi hampir tanpa hambatan yang berarti. Memang, terkadang ada eksperimen yang gagal, tetapi tidak sampai menimbulkan hal yang membahayakan jiwa
Tahun 1989 untuk pertama kalinya uji lapangan dilakukan pada kapas transgenik yang tahan terhadap serangga dan pada tahun yang sama dimulai proses pemetaan gen pada tanaman.
Perkembangan bioteknologi dalam memperoleh produk pangan baru, berpotensi dapat mengganti proses-proses fermentasi dengan tanaman yang mampu memproduksi berbagai jenis obat-obatan, vitamin dan bahkan vaksin secara alami. Kalau impian itu terwujud, bioteknologi mampu memindahkan proses yang terjadi dalam pabrik-pabrik fermentasi tersebut ke arah perkebunan tanaman yang memproduksi berbagai jenis komponen bio aktif dengan proses alami.
Gambaran tersebut secara jelas disampaikan oleh Dean Della Penna (2002:76) pakar Biokimia tanaman, Amerika Serikat. Bioteknologi modern berpeluang besar dalam memproduksi senyawa farmasi, gizi dan bioaktif. Bahwa tomat, brokoli dapat dimodifikasi gennya untuk menghasilkan ba-han atau senyawa kimia antikanker, demikian halnya dengan peningkatan kadar vitamin dalam padi, ubi jalar dan singkong yang dapat membantu pemerintah dalam usaha mengikis kekurangan gizi masyarakat.
Perakitan tanaman transgenik yang dapat mengekspresikan gen penyandi protein yang bersifat insektisidal memberikan beberapa keuntungan dalam usaha peningkatan produksi pertanian. Walaupun demikian, seperti halnya dengan pestisida, tanaman hasil perakitan dengan teknologi baru ini secara teori berpotensi mengubah ekosistem tanaman-serangga hama dan serangga pengendali hayati. Di lapang, tanaman tidak hanya mendukung populasi serangga hama, tetapi juga memberikan ruang bagi populasi serangga yang makan serangga hama tanaman tersebut. Interaksi antara tanaman, serangga hama, dan musuh alami berperan dalam mengontrol populasi hama itu sendiri yang dalam istilah ekologi dikenal dengan sistem tri-tropik. Dalam sistem ini, tanaman merupakan tingkat (level) pertama dari tropik, serangga hama merupakan tingkat kedua, dan musuh alami merupakan tingkat ketiga 
Pentingnya tanaman bagi perkembangan populasi predator dan parasit dan potensinya untuk mengatur keberhasilan pengendalian hayati telah lama diketahui (Schuler et al. 1999:63). Karena kekhawatiran bahwa tanaman transgenik akan merusak kestabilan populasi serangga pengendali hayati, maka produk rekayasa genetik perlu dikaji keamanannya terhadap lingkungan sebelum dilepas di alam. Di beberapa negara telah ditetapkan persyaratan untuk pengkajian pengaruh tanaman transgenik baik terhadap hama sasaran maupun serangga pengendali hayati yang hidup dan berkembang dari serangga hama sasaran.

Tidak ada komentar: